Bursa Asia Cerah, IHSG Bagaimana?

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
31 January 2022 08:52
A passerby walks past an electronic board displaying a graph showing recent movement of Japan's Nikkei average outside a brokerage in Tokyo, Japan, October 11, 2018. REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia dibuka menguat pada perdagangan Senin (31/1/2022), di tengah positifnya bursa saham Amerika Serikat (AS) pada Jumat pekan lalu waktu AS.

Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,39%, Hang Seng Hong Kong bertambah 0,42%, dan Straits Times Singapura terapresiasi 0,63%.

Sedangkan untuk indeks Shanghai Composite China dan KOSPI Korea Selatan pada hari ini tidak dibuka karena sedang libur dalam rangka perayaan Imlek yang jatuh pada Selasa besok. Untuk indeks Hang Seng pada hari ini hanya dibuka setengah hari saja.


Pada Minggu kemarin, data aktivitas manufaktur dan jasa China periode Januari 2022 versi NBS telah dirilis. NBS mencatat aktivitas manufaktur China yang tercermin pada Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Manager's Index) sedikit berkontraksi menjadi 50,1, dari sebelumnya pada Desember 2021 di angka 50,3.

Sedangkan PMI Jasa China periode Januari 2022 menurut NBS dilaporkan turun menjadi 51, dari sebelumnya pada Desember tahun lalu di angka 52,2.

Selain dari NBS, PMI manufaktur China versi Caixin/Markit juga telah dirilis kemarin, di mana PMI manufaktur China periode Januari 2022 juga turun menjadi 49,1, dari sebelumnya pada Desember tahun lalu di angka 50,9.

Sekadar informasi, PMI dicatat dengan skala 50 poin di mana angka di atas 50 menunjukkan aktivitas berkembang dan di bawah menunjukkan kontraksi.

Melambatnya aktivitas manufaktur dan Jasa Negeri Panda pada Januari 2022 disebabkan karena melonjaknya kasus virus corona (Covid-19) yang menyebabkan pemerintah setempat kembali memberlakukan pembatasan wilayah (lockdown), sehingga hal tersebut memukul produksi dan permintaan.

Sejatinya, ekonomi China mulai kuat tahun lalu dan bangkit dari kemerosotan tajam yang disebabkan oleh pandemi. Tetapi kini kembali mulai kehilangan momentum di musim panas, terbebani oleh masalah utang di pasar properti dan langkah-langkah darurat yang ketat yang memukul kepercayaan dan pengeluaran konsumen.

Naiknya biaya bahan baku dan lemahnya permintaan juga telah mengikis margin keuntungan perusahaan. Keuntungan di perusahaan industri naik pada laju paling lambat pada Desember tahun, menjadi yang terlambat selama lebih dari satu setengah tahun.

Pasar saham Asia yang cenderung cerah, meski hanya beberapa yang masih dibuka cenderung mengikuti pergerakan bursa saham AS, Wall Street pada Jumat pekan lalu, di mana bursa saham Negeri Paman Sam pada akhirnya berhasil menguat setelah sempat terkoreksi hampir sepekan.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melesat 1,65% ke level 34.725,469, S&P 500 melonjak 2,44% ke 4.431,87, dan Nasdaq Composite meroket 3,13% ke posisi 13.770,57.

Positifnya Wall Street pada akhir pekan lalu ditopang oleh oleh kinerja pendapatan dan laba yang kuat dari perusahaan-perusahaan besar di AS.

Beberapa kinerja positif pendapatan dana laba perusahaan besar ikut menjadi penyemangat bagi para investor. Salah satunya yakni saham Apple, di mana pada Jumat pekan lalu, harganya menguat 7%, sehari setelah emiten produsen iPhone tersebut mengumumkan rekor pendapatan dan laba.

Secara umum, pendapatan perusahaan lain tercatat solid. Hampir sepertiga dari perusahaan di S&P 500 telah melaporkan hasil kuartal keempat, dan 78% dari mereka telah mengalahkan perkiraan analis untuk laba per saham, menurut data dari FactSet.

Di lain sisi, data pemerintah yang dirilis pada Jumat pekan lalu menunjukkan tekanan meningkat pada harga yang membuat para pembuat kebijakan khawatir.

Ukuran inflasi yang disukai The Fed yakni indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (PCE), naik 4,9% pada Desember 2021, dibandingkan dari periode yang sama tahun 2020.

Sementara itu, data terbaru Departemen Perdagangan menunjukkan belanja konsumen turun bulan lalu, di tengah kenaikan harga dan dampak dari gelombang Omicron Covid-19.

Beberapa data menunjukkan bahwa varian yang sangat menular telah mencapai puncaknya di kawasan padat penduduk AS, dengan terus melonjak di tempat lain.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Dibuka Menguat, Hang Seng Merosot Sendirian


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading