Ancaman Perang Dunia 3 Bikin Harga Minyak Mendidih, Waspada!

Market - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
30 January 2022 12:45
FILE PHOTO: Oil pours out of a spout from Edwin Drake's original 1859 well that launched the modern petroleum industry at the Drake Well Museum and Park in Titusville, Pennsylvania U.S., October 5, 2017. REUTERS/Brendan McDermid/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia menguat sepanjang pekan kemarin terdorong konflik Rusia dan Ukraina. Minyak mentah jenis brent dan jenis light sweet masing-masing menguat 2,43% dan 1,97% sepanjang pekan.

Pada Jumat (28/1/2022) harga minyak jenis brent ditutup di US$ 90,03/barel, melejit 0,77% dari posisi hari sebelumnya. yang jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) ditutup di US$ 86,82/barel naik 0,24%.


Ketegangan Rusia-Ukraina masih menjadi faktor utama yang menggerakkan harga si emas hitam. Rusia masih menyiagakan ratusan ribu pasukan di perbatasan Ukraina, langkah yang membuat dunia ketar-ketir. Risiko akan meletusnya perang tidak bisa dikesampingkan.

Amerika Serikat (AS) dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sudah berkirim surat ke Kremlin. AS dan sekutunya meminta Rusia untuk menarik pasukan di perbatasan Ukraina. Dmitry Peskov, Juru Bicara Pemerintah Rusia, menyatakan masih mengkaji proposal tersebut.

"Kami belum bisa menyatakan sikap resmi apakah kepentingan dan perhatian kami sudah mendapatkan perhatian. Kami tidak terburu-buru dalam mengambil sikap," kata Peskov, sebagaimana diwartakan Reuters.

Namun, sejatinya ada harapan konfrontasi bersenjata tidak sampai terjadi. Sikap Rusia yang tidak menolak proposal AS dan NATO adalah secercah harapan untuk menghindarkan perang.

"Kami bersatu untuk diplomasi. Namun kami juga bersatu jika Moskow menolak tawaran untuk berdialog. Dampaknya akan cepat dan besar," ancam Victoria Nuland, Wakil Menteri Luar Negeri AS Bidang Urusan Politik, seperti dikutip dari Reuters.

Fakta bahwa masih ada jarak antara Rusia dengan negara-negara barat membuat pelaku pasar (dan seluruh) dunia khawatir. Kekhawatiran ini begitu terasa di pasar komoditas, terutama minyak. 

JPMorgan mengatakan ketegangan mempertaruhkan "lonjakan material" dalam harga minyak dan mencatat bahwa kenaikan bisa menjadi US$150 per barel.

Dampaknya akan mengurangi pertumbuhan PDB global menjadi hanya 0,9% year-on-year (yoy) pada semester I-2022. Sementara inflasi akan naik lebih dari dua kali lipat menjadi 7,2% yoy.

Maklum, Rusia adalah salah satu produsen dan eksportir minyak utama dunia. Saat terjadi ketegangan, dikhawatirkan produksi dan distribusi minyak Negeri Beruang Merah akan terganggu. Pasokan minyak dunia akan berkurang sehingga harga bergerak naik.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tekan Biaya Energi, AS Lepas Cadangan Minyak Strategis


(ras/ras)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading