Dua Pekan Lebih, 5 Kripto Big Cap Ambruk, Solana Paling Parah

Market - chd, CNBC Indonesia
18 January 2022 12:30
Ilustrasi Cryptocurrency (Photo by Pierre Borthiry on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar kripto pada pekan ketiga di tahun 2022 masih cenderung lesu dan belum bangkit seperti pada November 2021. Lesunya pasar kripto diketahui sudah terjadi pada perdagangan awal tahun 2022 lalu.

Setidaknya ada lima kripto berkapitalisasi pasar besar (big cap) selama dua pekan di tahun 2022 (year-to-date/YTD) mengalami koreksi hingga belasan persen. Bahkan, ada yang sudah terkoreksi hingga 21%.

Adapun lima kripto big cap yang terkoreksi hingga belasan persen yakni Bitcoin, Ethereum, Solana, XRP, dan Terra.


Berdasarkan data dari CoinMarketCap, Solana menjadi yang paling parah koreksinya dalam dua minggu lebih, yakni ambles 21%, disusul Terra yang ambrol 14,82%. Sedangkan untuk dua kripto 'jumbo' yakni Bitcoin dan Ethereum, keduanya merosot hingga 11,3% dan 14,44%.

Berikut pergerakan lima kripto big cap selama dua pekan lebih.

Kripto Big Cap

Belum bergairahnya kripto ke level November 2021 terjadi karena sentimen negatif di pasar keuangan global masih cenderung lebih banyak ketimbang sentimen positif.

Sentimen negatif yang pertama yakni inflasi global yang masih meninggi, terutama di Amerika Serikat (AS).

Pada pekan lalu, Indeks Harga Konsumen (IHK) AS pada Desember 2021 menunjukkan lonjakan 7% secara tahunan, angka tertinggi dalam empat dekade.

Sementara Indeks Harga Produsen (IHP) AS pada Desember 2021 yang dirilis pada esok harinya mencerminkan kenaikan 9,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Namun, hasil tersebut lebih baik daripada yang dikhawatirkan beberapa investor.

Melonjaknya kembali inflasi Negeri Paman Sam membuat pasar menduga-duga bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/the Fed) akan bersikap lebih hawkish ke depannya, di mana mereka juga memperkirakan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya lebih cepat dari yang diprediksi sebelumnya.

Dugaan pasar terhadap sikap The Fed yang semakin hawkish pun sempat membuat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah (Treasury) bertenor 10 tahun naik ke kisaran level 1,7%, bahkan nyaris menyentuh level 1,8%.

Suku bunga yang lebih tinggi memang dirancang untuk mencegah inflasi melonjak lebih jauh.

Namun, salah satu dampaknya ke pasar modal adalah kebijakan tersebut akan memukul aset spekulatif seperti saham dan mungkin juga kripto, karena investor memilih investasi yang lebih aman seperti misalnya obligasi pemerintah AS.

Selain dari inflasi dan potensi sikap hawkish The Fed, perkembangan pandemi virus corona (Covid-19) juga masih menjadi sentimen yang memberatkan pergerakan kripto.

Jumlah infeksi baru di dunia pada pekan-pekan terakhir menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menembus angka 15 juta per minggu.

Hal tersebut didorong munculnya varian Omicron. Bahkan, strain yang pertama terdeteksi di Afrika Selatan (Afsel) dan Bostwana itu sudah menggantikan varian Delta.

"Banyaknya kasus membebani sistem perawatan kesehatan," kata Pimpinan Teknis WHO untuk Covid-19 Maria Van Kerkhove, dalam konferensi pers terbaru Rabu (12/1/2021) lalu.

"Meskipun Omicron tidak separah Delta, ini masih menempatkan orang di rumah sakit, masih membuat orang ke ICU dan membutuhkan perawatan klinis lanjutan. Ia (Omicron) masih membunuh orang," tambahnya.

Di lain sisi, investor juga cenderung memburu aset digital lainnya yang masih terkait dengan kripto, yakni non-fungible asset atau NFT.

Sejatinya, tren NFT yang semakin pesat membuat harga Ethereum akan cenderung positif, karena mayoritas NFT menggunakan acuan kripto Ethereum. Tetapi hal ini ternyata tidak dapat membantu Ethereum kembali ke kisaran level pada November 2021.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bitcoin 'Diramal' Rp1,4 M, Tapi Solana Meroket & Cetak Rekor!


(chd/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading