Harga Emas Bakal Lompat 20%! Borong? Ini Kata Bos Investasi

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
13 January 2022 16:45
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia sukses mencatat penguatan 4 hari beruntun hingga perdagangan Rabu kemarin. Sebelumnya emas mengalami tekanan hingga kembali ke bawah US$ 1.800/troy ons akibat sikap bank sentral Amerika Serikat (AS) yang jauh lebih hawkish dari perkiraan pasar.

Saat emas sedang tertekan, Byron Wien, mantan kepala investasi Morgan Stanley memprediksi emas bisa memberikan pergerakan yang mengejutkan dengan melesat 20% dan mencapai US$ 2.160/troy ons di tahun ini. Level tersebut tentunya merupakan rekor tertinggi sepanjang masa. Wien kini kini menjabat wakil presiden Blackstone, perusahaan dengan aset under management sekitar US$ 650 miliar.   

Wien melihat meski The Fed menormalisasi kebijakan moneternya dengan agresif, tetapi inflasi masih akan tetap tinggi. Permintaan emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi akan meningkat.


"Harga emas reli 20% ke rekor tertinggi baru. Meski pertumbuhan ekonomi AS kuat, investor mencari aset aman dan lindung nilai dari inflasi di emas. Emas akan mendapatkan kembali statusnya sebagai safe haven bagi miliader baru, bahkan saat mata uang kripto menggerogoti pasarnya," kata Wien, sebagaimana dilansir Kitco, Selasa (4/1).

Seperti diketahui pada pekan lalu dalam notula rapat kebijakan moneter bulan Desember terungkap, beberapa pejabat The Fed melihat nilai neraca (balance sheet) bisa segera dikurangi setelah suku bunga dinaikkan.

Artinya, The Fed jauh lebih agresif dari perkiraan pasar. Sebelumnya, pelaku pasar melihat The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak 3 kali di tahun ini, dan paling awal di bulan Maret.

Normalisasi kebijakan moneter The Fed merupakan musuh utama emas. Kenaikan suku bunga dan pengurangan nilai neraca dapat memicu kenaikan yield obligasi (Treasury) AS. Emas pun sempat merosot ke kisaran US$ 1.780an pada pekan lalu.

xau

Tetapi setelahnya emas yang sukses menguat 4 hari terakhir tentunya bisa menjadi sinyal akan adanya kejutan tersebut. Sebab, ekspektasi pelaku pasar bank sentral AS (The Fed) akan agresif dalam menormalisasi kebijakan moneternya masih tetap sama. Artinya, emas perlahan lepas dari tekanan tersebut.

Kemarin, harga emas dunia menguat 0,18% ke US$ 1.825/troy ons, total dalam 4 hari perdagangan penguatan tercatat lebih dari 2%.

Potensi kenaikan harga emas dunia juga disebutkan oleh Jeffrey Gundlach, triliuner yang dijuluki "raja obligasi". Ia masih tetap bullish terhadap emas untuk jangka panjang. Apalagi, saat ini Gundlach melihat adanya risiko resesi akibat kenaikan suku bunga di AS, serta tingginya inflasi.

"Tekanan inflasi sedang meningkat, jika kita melihat perekonomian, tidak bisa dipungkiri ditopang oleh quantitative easing dan ekspansi neraca The Fed. Dan karena hal itu akan hilang, maka di tahun 2022 akan ada tantangan yang dihadapi untuk aset berisiko dan tentunya perekonomian. Sinyal dari pasar obligasi mulai terlihat seperti pra-resesi," kata Gundlach, sebagaimana diwartakan Kitco, Rabu, (12/1).

Pergerakan obligasi yang dimaksud yakni menurunnya yield Treasury AS dalam beberapa hari terakhir. Penurunan yield tersebut menjadi salah satu yang menopang kenaikan harga emas. Meski demikian, dalam jangka pendek Gundlach masih netral terhadap emas.

"Kami bullish terhadap emas ketika berada di kisaran US$ 1.180/troy ons pada September 2018. Dan emas pada akhirnya meroket dari level tersebut. Kami berubah menjadi netral ketika emas mencapai US$ 1.800/troy ons. Tetapi emas sempat melewati US$ 2.000/troy ons. Kini, anda memiliki peluang yang besar untuk kembali masuk ke emas saat harga di US$ 1.800/troy ons," kata Gundlach yang juga merupakan CEO DoubleLine Capital. 

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Antam Masih Pede Banget Jualan Emas 18 Ton Tahun Ini


(pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading