Saat Pasar Kripto Loyo, Pegang Token Ini Bisa Cuan 30% Lho!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
09 January 2022 12:00
kota bitcoin terbaik di dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Aset kripto berkapitalisasi pasar besar (big cap) mengalami pekan yang tidak menyenangkan di awal 2022. Ini terjadi, salah satunya, karena investor merespons negatif soal potensi dipercepatnya pengetatan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS).

Menurut data Coinmarketcap, Minggu (9/1/2022), pukul 09.41 WIB, harga aset kripto terjumbo Bitcoin (BTC) anjlok 11,35% dalam sepekan ke posisi US$ 41.986,07. Ini merupakan harga terendah BTC sejak 28 September 2021 ketika di posisi US$ 41.034.

Sementara hari ini mulai rebound 0,48% dibandingkan posisi kemarin, harga BTC sempat menyentuh US$40,800 alias sedikit di atas level psikologis kunci US$ 40 ribu pada Minggu dini hari tadi sekitar pukul 01.14 WIB.


Aset kripto terbesar kedua, Ethereum (ETH) juga anjlok 16,54% ke posisi US$ 3.128,52 pagi ini.

Secara umum, 10 aset kripto terbesar masih belum begitu pulih dari koreksi yang dalam selama 7 hari belakangan.

Adapun token kripto big cap Avalanche (AVAX) menjadi yang paling ambles dalam seminggu, yakni mencapai minus 25,80%.

Namun, dalam 24 jam terakhir, Solana (SOL), seperti BTC mulai rebound, yakni naik 3,34%.

10 Besar Kripto (Tanpa Stablecoin)

Nama

Kode

Harga Terakhir (US$)

% 24 Jam

% Sepekan

Bitcoin

BTC

41986.07

0.48

-11.35

Ethereum

ETH

3128.52

-2.3

-16.54

Binance Coin

BNB

434.47

-3.59

-17.08

Solana

SOL

143.4

3.34

-17.08

Cardano

ADA

1.19

-2.09

-11.95

XRP

XRP

0.7534

-1.96

-10.7

Terra

LUNA

68.55

-1.7

-25.03

Polkadot

DOT

24.29

-3.17

-13.74

Avalanche

AVAX

85.32

-2.81

-25.8

Dogecoin

DOGE

0.1522

-2.42

-11.76

Sumber: Coinmarketcap

Dari 100 besar kripto di Coinmarketcap, token Dash (DASH) menjadi yang paling melonjak dalam 24 jam terakhir di tengah 'lautan merah' pasar kripto, yakni naik 8,65%. Dalam seminggu, token ini juga terkerek 4,82%.

Adapun token yang masih terkena tekanan jual pagi ini adalah Ravencoin (RVN), yakni mencapai 10,24%.

Sementara, dalam sepekan, token Chainlink (LINK) yang menduduki peringkat 16 dalam hal kapitalisasi pasar sukses menjadi top gainers sebesar 29,14%. Sementara, pecundang sepekan adalah token Gala (GALA), yakni minus hingga 29,94%.

Analis memperkirakan harga Bitcoin masih akan bergerak sideways dalam beberapa hari mendatang, meskipun Bitcoin masih rentan terkoreksi jika level support-nya bisa ditembus.

Pengurangan leverage di pasar berjangka Bitcoin dan Ethereum menandakan bahwa kondisi pasar cenderung lebih sehat. Biasanya, ada kemungkinan volatilitas penurunan tambahan yang lebih rendah ketika para trader mengurangi posisi mereka di pasar kripto.

"Sepertinya beberapa trader mencoba berspekulasi kembali dalam pasar kripto ini," kata Genevieve Yeoh, analis riset di Delphi Digital, dikutip dari CoinDesk.

Beberapa hari sebelumnya, pasar kripto juga ikut terkoreksi bersama dengan pasar saham global, karena investor merespons negatif dari potensi dipercepatnya pengetatan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS).

Dalam rapat The Fed edisi Desember 2021, Ketua The Fed, Jerome 'Jay' Powell dan para koleganya menyebut pasar tenaga kerja sudah sangat ketat dan inflasi terus meninggi. Hal ini membuat The Fed sepertinya harus menaikkan suku bunga acuan lebih cepat.

"Para peserta rapat secara umum mencatat bahwa tidak bisa menghindari kenaikan suku bunga acuan lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Beberapa peserta rapat juga mencatat sudah saatnya mengurangi beban neraca (balance sheet) setelah kenaikan Federal Funds Rate," sebut notula itu.

Pasar pun langsung bereaksi. Mengutip CME FedWatch, kemungkinan kenaikan suku bunga acuan dalam rapat Komite Pengambil Kebijakan The Fed (Federal Open Market Committee/FOMC) edisi Maret 2022 mencapai 64,1%.

"Indikasi The Fed semakin khawatir dengan inflasi akan menciptakan pandangan bahwa mereka akan melakukan pengetatan kebijakan secara agresif pada 2022. Lebih hawkish dari dugaan," kata David Carter, Chief Investment Officer di Lenox Wealth Adivisors yang berbasis di New York, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (6/1/2022).

Kenaikan suku bunga acuan membuat investor cenderung melirik ke aset berpendapatan tetap seperti obligasi pemerintah, karena imbal hasilnya (yield) akan ikut terkerek dan investor cenderung meninggalkan aset berisiko seperti kripto dan saham.

Pada pekan ini pula, yield obligasi pemerintah AS (Treasury) bertenor 10 tahun yang menjadi acuan obligasi pemerintah Negeri Paman Sam sempat melonjak ke level 1,75%, yakni pada Kamis waktu setempat.

Namun pada perdagangan Jumat waktu AS, yield Treasury bertenor 10 tahun kembali naik dan kini berada di level 1,76%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Joss! Bitcoin Sentuh Harga Rp 720 Juta, Tertinggi 3 Bulan


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading