Bursa Asia Dibuka Tak Kompak, Nikkei Galau

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
05 January 2022 08:42
Passersby are reflected on an electronic board showing the exchange rates between the Japanese yen and the U.S. dollar, the yen against the euro, the yen against the Australian dollar, Dow Jones Industrial Average and other market indices outside a brokerage in Tokyo, Japan, August 6, 2019.   REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia dibuka cenderung beragam pada perdagangan Rabu (5/1/2022), di tengah mulai lesunya bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa kemarin waktu setempat.

Indeks Hang Seng Hong Kong dibuka naik tipis 0,06% dan Straits Times Singapura dibuka menguat 0,3% pada pagi hari ini.

Sedangkan untuk indeks Nikkei sempat dibuka melemah 0,1%. Namun selang 90 menit setelah dibuka, Nikkei naik tipis 0,07%.


Sementara untuk indeks Shanghai Composite China dan KOSPI Korea Selatan dibuka melemah sebesar 0,17% pada pagi hari ini.

Cenderung beragamnya bursa Asia pada hari ini terjadi di tengah pergerakan bursa AS, Wall Street yang mulai lesu pada perdagangan Selasa kemarin waktu AS, di mana hanya indeks Dow Jones yang masih mampu bertahan di zona hijau.

Dow Jones ditutup menguat 0,59% ke level 36.799,648, ditopang oleh kenaikan saham perbankan, seperti saham Goldman Sachs yang melesat 3,07%, saham JPMorgan Chase & Co yang melonjak 3,79%, dan saham Wells Fargo & Co melompat 3,98%.

Sedangkan indeks S&P 500 ditutup turun tipis 0,06% ke level 4.793,54 dan Nasdaq Composite berakhir ambles 1,33% ke posisi 15.622,72.

Koreksi saham teknologi menjadi pemberat indeks Nasdaq kemarin, di mana saham Tesla ambles 4,18%, saham Microsoft minus 1,71%, dan saham Apple merosot 1,27%.

Maklum, kemarin harga saham Tesla meroket 13,53% dan Apple melesat 2,5%, sehingga hal tersebut membuat investor merealisasikan keuntungannya.

Investor mengantisipasi rencana bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang bakal mengetatkan kebijakan moneter.

Mulai bulan ini, The Fed menambah dosis pengurangan pembelian aset dari sebelumnya sebesar US$ 15 miliar per bulan menjadi US$ 30 miliar. Dengan demikian, program pembelian aset atau quantitative easing (QE) akan selesai pada Maret 2022.

Begitu QE selesai, maka Ketua The Fed, Jerome 'Jay' Powell dan para koleganya diyakini bakal segera menaikkan suku bunga acuan. Mengutip CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang Federal Funds Rate menyentuh 0,75-1% pada akhir 2022 mencapai 30,3%, tertinggi di antara kemungkinan lain. Saat ini suku bunga acuan Negeri Paman Sam ada di 0-0,25%.

"Saya memperkirakan terjadi kenaikan suku bunga dua kali pada 2022. Inflasi ternyata lebih tinggi dan persisten dari yang saya duga sebelumnya," kata Neel Kashkari, Presiden The Fed Minneapolis, dalam tulisan di Medium.

Kenaikan suku bunga acuan akan ikut mengerek suku bunga acuan perbankan. Dengan demikian, laba perbankan akan semakin tebal sehingga tidak heran investor mengincar saham Goldman Sachs dkk.

Investor juga memantau pergerakan imbal hasil (yield) di pasar obligasi pemerintah AS (Treasury), di mana yield Treasury AS naik pada laju tercepat dalam dua dekade terakhir. Yield Treasury acuan bertenor 10 tahun naik menjadi 1,71% pada Selasa kemarin.

Sementara itu dari seputaran virus corona (Covid-19), kabar sedikit menggembirakan datang dari Barat, di mana Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) melihat semakin banyak bukti bahwa Covid-19 varian Omicron hanya menimbulkan gejala ringan. Makin ke sini, hubungan antara kasus positif dan angka kematian semakin rendah.

"Kita makin banyak melihat studi yang menunjukkan bahwa Omicron lebih menginfeksi tubuh bagian atas. Tidak seperti sebelumnya, di mana terjadi peradangan di paru-paru. Ini bisa menjadi kabar baik, tetapi kita masih butuh lebih banyak kajian. Kita pun melihat hubungan antara kasus baru dan angka kematian semakin kecil (decoupling)," kata Abdi Mahamud, Manajer Insiden WHO, seperti dikutip dari Reuters.

Meski demikian, Mahamud menegaskan kewaspadaan tidak boleh mengendur. Risiko masih besar, terutama di negara-negara dengan tingkat vaksinasi anti-virus corona yang rendah.

Walaupun Omicron bisa melewati hadangan antibodi, tetapi Mahamud menyatakan vaksin masih ampuh untuk menopang ketahanan tubuh.

"(Vaksin) bisa menghindari gejala berat dan perawatan di rumah sakit serta kematian. Tantangannya bukan ketersediaan vaksim tetapi bagaimana vaksinasi menjangkau seluruh populasi, terutama mereka yang rentan," papar Mahamud.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Efek Utang Evergrande Rp 4.000 T, Bursa Asia Ambruk Lagi!


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading