Sempat Digebuk Dolar AS, Rupiah Akhirnya Balik Perkasa!

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
11 December 2021 12:15
muhammad sabqi
Attachments
3:47 PM (5 minutes ago)
to redaksi, me

   
Translate message
Turn off for: Indonesian
Barang bukti uang palsu ditunjukkan saat press release pengungkapan kejahatan uang palsu di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis, 23/10/2021. Karopenmas Mabes Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan pengungkapan tindak pidana ini dilakukan di wilayah Jabodetabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Polisi mengamankan uang palsu pecahan Rp 100.000. Selain mata uang rupiah, ada juga ratusan lembar mata uang dolar. Selain uang polisi juga mengamankan sejumlah mesin cetak pencetak uang palsu. Tersangka itu dijerat dengan Pasal 244 KUHP dan atau Pasal 245 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP untuk mata uang asing. Serta pasal 36 ayat (1), ayat (2), ayat (3), pasal 37 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang jo 55 KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun penjara (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Pengungkapan kejahatan uang palsu (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah terpuruk dalam dua pekan terakhir melawan dolar Amerika Serikat (AS), mata Uang Garuda akhirnya mampu menguat tipis pekan ini.

Penguatan pertama terjadi pada hari Selasa (7/12) setelah dalam 12 hari perdagangan sebelumnya tidak pernah menguat. Rinciannya, melemah 10 kali, stagnan 2 kali. Akan tetapi setelah menguat tiga hari hingga Kamis, pada hari Jumat (10/12) kemarin, rupiah kembali terkoreksi, salah satunya dikarenakan Inggris yang kembali mengetatkan pembatasan sosial memberikan sentimen negatif ke pasar finansial global.

Sepanjang pekan ini, rupiah akhirnya mampu mengalami penguatan tipis 0,17% ke Rp 14.370/US$ melansir data Refinitiv,padahal indeks dolar AS sedang menguat 0,23% sepanjang pekan ini. Bahkan, jika dilihat lebih ke belakang, indeks dolar AS sudah menguat dalam 7 pekan beruntun.


Tidak hanya rupiah, beberapa mata uang Asia juga mampu mencatat penguatan di pekan ini.

Penguatan indeks dolar AS tetapi mata uang Asia masih mampu menguat mengindikasikan dolar AS hanya menguat melawan mata uang utama saja. Euro misalnya, sepanjang pekan ini melemah 0,35% melawan dolar AS. Kemudian poundsterling turun 0,26%, yen Jepang merosot 0,76%.

Dolar AS masih sulit menguat melawan mata uang utama Asia meski bank sentral AS (The Fed) berencana mempercepat normalisasi kebijakan moneternya.

Tingginya inflasi serta perekonomian yang kuat membuat The Fed mempertimbangkan untuk mempercepat tapering atau nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) yang saat ini senilai US$ 15 miliar setiap bulan.

Nilai QE bank sentral paling powerful di dunia ini sebesar US$ 120 miliar, dan tapering sudah mulai dilakukan pada November lalu. Artinya, hingga QE menjadi nol diperlukan waktu selama 8 bulan.

The Fed diperkirakan akan meningkatkan tapering hingga menjadi US$ 30 miliar per bulan, sehingga QE akan menjadi nol dalam waktu 4 sampai 5 bulan. Selain itu, The Fed juga diprediksi akan memberikan indikasi agresif menaikkan suku bunga di tahun depan.

Imbal Hasil Riil yang Tinggi Buat Rupiah Kuat

Selisih yield yang cukup lebar menjadi kunci kuatnya rupiah menghadapi dolar AS. The Fed memang mungkin menaikkan suku bunga sebanyak 3 kali, tetapi kenaikan tersebut belum tentu membuat imbal hasil (yield) riil menjadi positif.

Yield obligasi AS (Treasury) tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 1,5%, sementara inflasi jauh lebih tinggi.

Inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) di AS bulan Oktober sebesar 6,2% year-on-year (yoy), menjadi kenaikan terbesar sejak Desember 1990.

Artinya, imbal hasil riil, yakni selisih yield dengan inflasi, masih sangat negatif, sekitar -4,6%.

Sementara untuk Indonesia, dengan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun di kisaran 6,3% dan inflasi di bulan November 1,75% (yoy), riil yield masih positif sekitar 4,5%.

Ketika The Fed menaikkan suku bunga, imbal hasil tentunya juga akan menanjak, tetapi kemungkinan besar masih akan negatif, dan selisihnya cukup lebar dengan Indonesia.

Berbeda dengan negara negara maju yang riil yield-nya juga negatif, sehingga ketika The Fed menaikkan suku bunga, riil yield di AS bisa lebih tinggi. Inggris misalnya, yield obligasi tenor 10 tahun saat ini sekitar 0,77%, sementara inflasi saat ini sebesar 4,2% (yoy), sehingga riil yield-nya minus 3,5%.

Sementara itu triliuner Jeffrey Gundlach, yang dijuluki sang "raja obligasi", melihat inflasi di AS tidak akan ke bawah 4% di tahun depan.

Gundlach juga melihat inflasi tersebut bisa mencapai 7% dalam beberapa bulan ke depan.

The Fed yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga secara agresif di tahun depan guna meredam inflasi tersebut menurut Gundlach malah akan menimbulkan masalah bagi perekonomian.

"Kita kemungkinan akan melihat masalah di perekonomian hanya dengan beberapa kali kenaikan suku bunga The Fed - empat kali kenaikan atau lebih. Jika suku bunga berada di 1% atau 1,5%, maka hal tersebut akan merusak perekonomian," kata Gundlach, sebagaimana diwartakan Kitco, Rabu (8/12).

Selain itu, ia juga memperkirakan dolar AS akan jeblok di tahun depan akibat dobel defisit yang dialami Amerika Serikat.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jeffery "Raja Obligasi" Gundlach: Dolar AS Menuju "Kiamat"


(fsd/fsd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading