Kode Broker Dihapus, Begini Suara Investor Ritel?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
07 December 2021 12:35
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penerapan penghapusan kode broker di running trade telah mulai diberlakukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (6/12/2021). Hal ini dilakukan untuk menerapkan common practise seperti yang dilakukan di bursa saham lainnya di dunia.

Kini para trader tak bisa lagi mengintip transaksi yang dilakukan oleh broker selama jam perdagangan berlangsung. Namun, transaksi ini masih bisa dilihat di akhir perdagangan setelah semua data terkumpul.

Hal ini menimbulkan pro dan kontra di antara para pelaku pasar. Tentu para trader yang biasanya menerapkan sistem follow the big money akan panik dengan adanya sistem ini, namun trader dengan penilaian teknikal atau investor jangka panjang tak merasa terganggu dengan penerapan kebijakan baru ini.


Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) menyebut saat ini hanya bursa saham Indonesia dan Filipina, sebelum Indonesia menghapuskan, yang masih memampangkan kode broker selama perdagangan. Bahkan diakuinya, para Anggota Bursa (AB) juga ada yang masih terpecah pendapatnya mengenai hal ini

Namun demikian, penghapusan kode broker ini diharapkan akan dapat mengubah kebiasaan trader dalam negeri untuk lebih memperhatikan penilaian fundamental dan teknikal saham, ketimbang hanya mengikuti aktivitas transaksi broker.

"Secara jangka menengah dan panjang ini akan merubah trading behaviour investor kita. Kita tau ada beberapa mungkin investor kita yang trading itu berdasarkan ngikut siapa dagang apa. Sebenarnya biasanya mereka lakukan ini pada saat transaksi itu berjalan," kata Karman Pamurahardjo, Ketua Umum APEI dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV, Senin (6/12/2021).

Bursa Efek Indonesia (BEI) pun juga menyatakan aktivitas transaksi perdagangan tetap berjalan normal kendati otoritas bursa mulai menerapkan kebijakan penghapusan kode broker saat transaksi berlangsung.

Nilai transaksi pun masih terbilang wajar kendati sempat terjadi penurunan harga saham beberapa perusahaan yang melantai perdana pada perdagangan pada hari yang sama dengan implementasi kebijakan ini.

"Kondisi berjalan lancar, perdagangan dari segi transaksi dan keaktifan dari para pemodal juga berjalan dengan baik," kata Laksono Widodo, Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa.

Lalu bagaimana sebenarnya pendapat para trader dan investor dalam menanggapi kebijakan bursa ini? Berikut pendapatnya yang dirangkum oleh CNBC Indonesia.

Khabib, 24 tahun

Sedikit ngaruh sih. Karena biasanya broker summary buat saya sendiri buat mastiin kalo emiten lagi di akumulasi.

Tapi gak berpengaruh banyak. Karena balik lagi, analisa saya gak cuma dari broker summary. Tapi dari beberapa indikator yang lain. Saya sendiri lebih sering pake patokan moving average. Jadi technical analytics yang lebih sering diperhatiin, broker summary buat pendukung aja.

[Tapi] Karena bandarmology juga salah satu indikator yang penting, tapi ga sepenuhnya kita terpaku ke situ, jadi ada rasa kurang analisanya, kita mau beli kapan, atau ini saham lagi diakumulasi atau didistribusi. Jadi berpengaruhnya ada, cuma ga banyak karena masih ada indikator yang lain yang bantu kita buat analisa.

Iqbal, 30 tahun

Kalau saya tidak terlalu berpengaruh soalnya saya lebih menganut defensive investing dan memilih saham yang memberikan dividen yang baik. Jadi bukan penganut bandarmology.

Tapi memang sesekali masih melihat broker summary untuk melihat aktvitas transaksi broker. Tapi biasanya pada hari libur.

Intinya kalo proyeksi dividennya besar dan harga setelah dianalisis lagi di bawah, itu yang akan menjadi pertimbangan utama.

Yanti, 26 tahun

Penutupan kode broker bagi saya menyulitkan ketika berinvestasi. Misalnya saya lihat rekomendasi beli untuk sebuah saham di berbagai sekuritas dengan target harga tertentu.

Sebelum ditutup saya bisa tahu, broker mana dengan target berapa yang justru malah sell di hari itu. Maka rekomendasinya tidak akan saya ikuti. Tapi kan sekarang tidak lagi.

Selain itu, penutupan kode broker juga membuat seolah-olah pasar tidak menjadi transparan.

Masa saya harus ikuti influencer dalam berinvestasi?

Fitria, 28 tahun

Saya biasanya aktif trading. Tapi dengan penutupan kode broker jadi lebih menunda dulu kembali mulai trading. Masih menunggu kondisi dan mental kembali stabil.

Karena banyak investor yang belum begitu paham analisa fundamental dan teknikal, Jadi selama ini dengan ada kode broker, investor banyak mengikuti pasar dengan kode broker tertentu.

Galih, 30 tahun

Saya senang dengan penghapusan kode broker ini. Dengan dihapus, jadinya aspek fundamental bener-bener diperhatiin buat milih saham. Kebanyakan bandar dan sistem jual-beli saham sebelumnya menurut saya kurang baik.

Nilai IHSG lima tahun lalu sama sekarang ya gini-gini aja. Beda sama S&P 500 atau indeks acuan lainnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kode Broker Ditutup, Berkah Atau Musibah?


(mon/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading