Pasar Bertaruh Omicron Tak Parah, Wall Street Dibuka Menguat

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
02 December 2021 21:47
Tourists gather around the Charging Bull statue, also known as the Wall St. Bull, in the financial district of New York City, U.S., August 18, 2018. Picture taken August 18, 2018. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Kamis (2/12/2021), meski virus Covid-19 varian Omicron mulai menyebar ke Negara Adidaya tersebut.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 100 poin pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB) dan selang 15 menit bertambah menjadi 351,4 poin (+1,03%) ke 34.373,4 sementara S&P 500 bertambah 31,2 poin (+0,69%) ke 4.544,27. Nasdaq melesat 70,6 poin (+0,46%) ke 15.324,63.

Saham maskapai penerbangan dan energi memimpin reli di pembukaan. Saham Boeing melompat 3% setelah China mengizinkan seri 737 Max untuk kembali terbang. Sebaliknya, saham Apple drop 3% setelah penjualan Iphone dilaporkan melambat.


Pemerintahan Joe Biden merespons konfirmasi varian baru tersebut di California dengan meminta pelaku bisnis untuk memberlakukan persyaratan vaksin bagi konsumen, meski aturan tersebut masih menunggu hasil sidang karena digugat kelompok masyarakat.

Gedung Putih juga memperketat aturan perjalanan dengan mewajibkan penumpang menjalani tes 24 jam sebelum keberangkatan. Investor memantau perkembangan tersebut terutama melihat karakteristik varian baru, yang sejauh ini diduga tidak menimbulkan lonjakan angka kematian.

Ketua Fed Jerome Powell kepada DPR AS menyatakan bahwa "tekanan inflasi meninggi, dan karenanya kebijakan pembelian aset akan dipercepat." Risiko lainnya adalah efek inflasi terhadap konsumsi terutama setelah stimulus moneter dan fiskal berakhir.

"Kami masih berhati-hati melihat indeks S&P 500 di tengah pengetatan The Fed yang cenderung hawkish sehingga pasar mengalami overvaluasi," tutur Savita Subramanian, Kepala Ekuitas dan Strategi Kuantitatif Bank of America, seperti dikutip CNBC International.

Namun, perseroan mencatat Desember sebagai bulan terkuat bagi S&P 500, dengan rerata penguatan sebesar 2,3% sejak tahun 1936 dari persentase kenaikan yang mencapai 79% secara historis.

Kemarin Wall Street menguat dan baru terkoreksi setelah ada kabar kasus pertama omicron ditemukan di California. Dow Jones anjlok 460 poin setelah sempat melesat 521 poin. Indeks S&P anjlok 1,2%, berbalik dari reli sebelumnya 1,9%. Nasdaq anjlok 1,83% setelah sempat menguat 1,8%.

Klaim tunjangan pengangguran pekan lalu mencapai 222.000. Ekonom dalam polling Dow Jones memperkirakan angka 240.000.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa AS Terindikasi Flat Usai Aksi Cetak Rekor Tertinggi


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading