Bursa Asia Merah Membara, Hati-hati Nular ke IHSG

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
29 November 2021 08:44
The logo of China's Beijing Stock Exchange is seen by a stock chart in this illustration picture taken November 12, 2021. REUTERS/Florence Lo/Illustration

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia kembali dibuka melemah pada perdagangan Senin (29/11/2021), karena investor terus memantau perkembangan seputar virus corona (Covid-19) varian Omicron yang baru ditemukan dan sempat membuat pasar saham global ambruk pada pekan lalu.

Indeks Nikkei dibuka merosot 0,73%, Hang Seng Hong Kong melemah 0,59%, Shanghai Composite China drop 0,78%, Straits Times Singapura terkoreksi 0,71%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,37%.

Pasar saham Asia pada pagi hari ini kembali diperdagangkan di zona merah. Tetapi pelemahannya tidak separah pada akhir pekan lalu.


Pasar saham global anjlok pada perdagangan akhir pekan lalu, di mana bursa saham Amerika Serikat (AS) juga terbanting pada penutupan perdagangan Jumat (26/11/2021), dipicu kecemasan seputar munculnya varian baru virus Covid-19 di tengah jam transaksi yang berkurang separuh menyusul libur Thanksgiving.

Indeks Dow Jones Industrial Average ambles 2,5% ke level 34.899,34 setelah sempat tenggelam hingga 1.000 poin ke titik terendah hariannya. S&P 500 ambruk 2,27% ke 4.594,62. Sementara itu, Nasdaq terpelanting 2,23% ke 15.491,66.

Koreksi terjadi setelah pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengingatkan soal risiko varian baru Covid-19 yang merebak di Afrika, yang disebut sebagai varian Omicron.

Namun, WHO mengatakan dalam sebuah pernyataannya pada Minggu (28/11/2021) kemarin bahwa mereka masih belum mengetahui jelas apakah infeksi varian Omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan dengan strain lain, termasuk Delta.

Di lain sisi, kasus Covid-19 di Eropa cenderung meningkat jelang musim liburan akhir tahun.

Hal ini membuat pemerintah Inggris untuk sementara menghentikan penerbangan dari dan ke enam negara Afrika terkait dengan varian tersebut. Dua kasus teridentifikasi di Hong Kong, dan satu kasus teridentifikasi di Belgia.

Harga obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) pun meningkat setelah imbal hasil (yield) obligasi tenor 10 tahun tertekan 15 basis poin (bp) menjadi 1,49%. Artinya, pasar sedang memburu aset yang dinilai aman risiko ini karena munculnya risiko di perekonomian.

Indeks volatilitas Cboe, yang seringkali disebut sebagai indeks kecemasan pasar, menguat ke level 28 yang menjadi posisi tertingginya dalam 2 bulan terakhir.

Harga kontrak berjangka minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat drop 12% ke bawah level US$ 70/barel pada perdagangan akhir pekan lalu.

Namun pada pagi hari ini, kontrak berjangka (futures) indeks saham AS terpantau menguat meskipun pelaku pasar di Negeri Paman Sam cenderung masih khawatir dengan varian baru Covid-19. Investor masih terus memantau perkembangan varian Omicron hingga hari ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading