Bursa Asia Tak Kompak Lagi, Nikkei Cerah Tapi Shanghai Mager

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
25 November 2021 16:46
A man in a business building is reflected on an electronic stock quotation board outside a brokerage in Tokyo, Japan, October 11, 2018.  REUTERS/Kim Kyung-Hoon Foto: Ilustrasi Bursa Tokyo (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia kembali ditutup beragam pada perdagangan Kamis (25/11/2021), karena investor bereaksi beragam terhadap keputusan bank sentral Korea Selatan yang kembali menaikkan suku bunga acuannya pada periode November 2021.

Indeks Nikkei Jepang ditutup melesat 0,67% ke level 29.499,279, Hang Seng Hong Kong menguat 0,22% ke 24.740,16, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir terapresiasi 0,24% ke 6.699,346.

Sedangkan untuk indeks Shanghai Composite China ditutup melemah 0,24% ke level 3.584,18, Straits Times Singapura turun 0,17% ke 3.221,52, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi ke 2.980,27.


Indeks KOSPI terbebani oleh respons pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan bank sentral Korea Selatan (Bank of Korea).

Bank of Korea memutuskan untuk menaikkan suku bunga 7-Day repurchase agreements rate sebesar 25 basis poin (bp) menjadi 1%.

Hal ini sejalan dengan ekspektasi analis yang disurvei oleh Reuters, di mana mereka memperkirakan kenaikan suku bunga pada November.

Bank sentral Negeri Ginseng tersebut telah menaikkan suku bunga acuannya dua kali dalam tiga bulan terakhir untuk mengekang percepatan inflasi dan melonjaknya utang rumah tangga.

Pada Agustus lalu, Bank of Korea telah menaikkan suku bunga menjadi 0,75%, dari rekor terendahnya di 0,5% pada Juli lalu.

Bank of Korea telah mengisyaratkan bahwa mereka dapat saja merevisi perkiraan inflasi ke atas, menandakan adanya kebutuhan mendesak untuk mengekang kenaikan harga.

Sebelumnya, inflasi dari sektor konsumen (Indeks Harga konsumen/IHK) Korea Selatan pada Oktober lalu mencapai level tertingginya dalam hampir satu dekade dan melampaui target tahunan sebesar 2,0% selama tujuh bulan berturut-turut.

Sementara itu, indeks Shanghai China juga ditutup di zona merah pada hari ini karena terbebani oleh saham sektor pengembang properti dan produsen mobil di China.

Indeks sektor pengembang real estate dan perusahaan asuransi masing-masing terkoreksi 0,9% dan 0,3%.

Regulator China akan memantau kegiatan investasi perusahaan asuransi yang berada di luar ruang lingkup investasi yang diizinkan, termasuk yang diinvestasikan ke dalam proyek real estate China dan ke pengembang properti yang tidak terdaftar.

Sementara itu di Amerika Serikat (AS), pasar saham Negeri Paman Sam pada hari ini tidak dibuka karena sedang libur nasional memperingati hari Thanksgiving.

Sebelumnya pada perdagangan Rabu (24/11/2021) waktu setempat, Wall Street yang ditutup kembali bervariasi dengan mayoritas menguat pada perdagangan Rabu (24/11/2021) waktu AS.

Hanya indeks Dow Jones Industrial saja yang melemah, setelah dalam dua hari perdagangan terakhir indeks Nasdaq Composite yang terkapar di zona merah.

Namun pelemahan Dow Jones sejatinya tipis saja karena hanya terkoreksi 0,03%. Sedangkan untuk kasus S&P 500 dan Nasdaq Composite keduanya menguat masing-masing sebesar 0,23% dan 0,44%.

Masih menguatnya dua indeks utama di Wall Street terjadi di tengah risiko inflasi di AS yang dikhawatirkan bakal memanas (overheat).

Departemen Perdagangan AS melaporkan inflasi inti (Core PCE) AS bulan Oktober tercatat naik 4,1% secara tahunan (year-on-year/YoY) dan menandai kenaikan tertinggi dalam hampir 3 dekade terakhir.

Jika memasukkan komponen makanan dan energi yang selanjutnya dikenal sebagai headline inflation, indeks PCE AS tumbuh 5% YoY pada periode yang sama dan menjadi yang tertinggi sejak tahun 1990. Penyebab tingginya inflasi di AS adalah kenaikan harga energi yang mencapai lebih dari 30% dalam satu tahun terakhir.

Kenaikan inflasi yang tinggi dan lebih persisten membuat pelaku pasar kembali melirik bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed). Selain isu renominasi Jerome Powell sebagai ketua The Fed, faktor lain yang juga menjadi fokus pelaku pasar adalah arah kebijakan moneternya.

Memang di bulan November ini, bank sentral paling powerful di dunia tersebut sudah mengumumkan pengurangan pembelian obligasi (tapering) dengan laju pengurangan stimulus sebesar US$ 15 miliar per bulan.

Namun dengan adanya inflasi yang membandel, The Fed kemungkinan bakal lebih agresif lagi dalam mengurangi stimulusnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading