Bursa Asia Galau, IHSG Wajib Waspada!

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
25 November 2021 09:19
Passersby are reflected on an electronic board showing the exchange rates between the Japanese yen and the U.S. dollar, the yen against the euro, the yen against the Australian dollar, Dow Jones Industrial Average and other market indices outside a brokerage in Tokyo, Japan, August 6, 2019.   REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia dibuka cenderung beragam pada perdagangan Kamis (25/11/2021), karena investor di Asia merespons kenaikan suku bunga acuan bank sentral Korea Selatan.

Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,58%, Shanghai Composite China naik tipis 0,02%, dan Straits Times Singapura bertambah 0,17%. Sedangkan untuk indeks Hang Seng Hong Kong dibuka turun tipis 0,02% dan KOSPI Korea Selatan melemah 0,11%.

Dari Korea Selatan, bank sentral Negeri Ginseng (Bank of Korea) menaikkan suku bunga acuannya untuk kedua kalinya dalam tiga bulan terakhir untuk mengekang percepatan inflasi dan melonjaknya utang rumah tangga.


Bank of Korea menaikkan suku bunga 7-Day repurchase agreements rate sebesar 25 basis poin (bp) menjadi 1,00%. Bank sentral Negeri Ginseng tersebut sebelumnya telah menaikkan suku bunga menjadi 0,75% pada Agustus lalu, dari rekor terendahnya di 0,50%.

Semua 34 analis yang disurvei oleh The Wall Street Journal (WSJ) menjelang keputusan tersebut memperkirakan kenaikan suku bunga pada November. Sebagian besar analis memperkirakan bank akan menaikkan suku bunga lebih lanjut tahun depan.

Bank of Korea telah mengisyaratkan bahwa mereka dapat saja merevisi perkiraan inflasi ke atas, menandakan adanya kebutuhan mendesak untuk mengekang kenaikan harga.

Sebelumnya, inflasi dari sektor konsumen (Indeks Harga konsumen/IHK) Korea Selatan pada Oktober lalu mencapai level tertingginya dalam hampir satu dekade dan melampaui target tahunan sebesar 2,0% selama tujuh bulan berturut-turut.

Bank sentral Korea Selatan berusaha untuk menarik kembali stimulus yang disebabkan oleh pandemi virus corona (Covid-19) karena pemulihan ekonomi terus berlanjut, terutama didorong oleh ekspor Negeri Ginseng yang tumbuh semakin cepat.

Ekspor Korea Selatan pada Oktober lalu meningkat 24% secara tahunan (year-on-year/YoY), karena adanya permintaan yang kuat di sektor semikonduktor dan barang lainnya.

Pergerakan bursa Asia pada hari ini cenderung kembali mengikuti pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street yang ditutup kembali bervariasi dengan mayoritas menguat pada perdagangan Rabu (24/11/2021) waktu AS.

Hanya indeks Dow Jones Industrial saja yang melemah, setelah dalam dua hari perdagangan terakhir indeks Nasdaq Composite yang terkapar di zona merah.

Namun pelemahan Dow Jones sejatinya tipis saja karena hanya terkoreksi 0,03%. Sedangkan untuk kasus S&P 500 dan Nasdaq Composite keduanya menguat masing-masing sebesar 0,23% dan 0,44%. Nasdaq akhirnya sukses memimpin penguatan setelah terkoreksi tajam sejak awal pekan ini.

Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) seri acuan 10 tahun juga mengalami penurunan setelah sempat tembus level 1,67% kemarin. Yield surat utang negara AS tenor 10 tahun tersebut turun menjadi 1,64%.

Salah satu sentimen yang dicermati oleh pelaku pasar adalah rilis data inflasi AS. Departemen Perdagangan Negeri Paman Sam melaporkan inflasi inti (Core PCE) AS bulan Oktober tercatat naik 4,1% (YoY) dan menandai kenaikan tertinggi dalam hampir 3 dekade terakhir.

Jika memasukkan komponen makanan dan energi yang selanjutnya dikenal sebagai headline inflation, indeks PCE AS tumbuh 5% YoY pada periode yang sama dan menjadi yang tertinggi sejak tahun 1990. Penyebab tingginya inflasi di AS adalah kenaikan harga energi yang mencapai lebih dari 30% dalam satu tahun terakhir.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading