Bos OJK: Kredit Perbankan Bisa Tumbuh 5% di Akhir 2021

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
16 November 2021 13:50
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dalam Acara OJK Virtual Day (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden) (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini sampai dengan akhir tahun ini, pertumbuhan kredit industri perbankan nasional akan tumbuh pda kisaran 4% sampai dengan 5% di akhir tahun ini.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso mengungkapkan, target tersebut seiring tren pertumbuhan kredit perbankan 3,12% pada September sejak awal tahun ini. Sedangkan, secara bulanan, kredit tercatat tumbuh 1,20%.

Dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga tercatat tumbuh 7,45% pada September 2021 diikuti dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) yang longgar di 78,93% dan capital adequacy ratio (CAR) di level 25,24%.


"Pertumbuhan kredit positif 3,12% year to date September, kami yakin akhir tahun [akan tumbuh] antara 4,5% smpai 5% kalau bias ke atas, atau 4% bias bawah, tergantung situasi Covid-19," kata Wimboh Santoso, di acara CEO Networking (CEON) 2021, Selasa (16/11/2021).

Selain fungsi intermediasi yang mulai membaik, kata Wimboh, hal ini juga diikuti oleh penurunan rasio kredit bermasalah (non performing loan (NPL).

Berdasarkan data OJK sampai dengan September 2021, rasio NPL perbankan secara gross turun menjadi 3,32% dari Agustus 2021 3,35%. Adapun, NPL nett juga turun dari sebelumnya 1,08% menjadi 1,04%. Meskipun terjadi penurunan risiko kredit, Wimboh meminta agar perbankan memitigasi risiko dengan meningkatkan cadangan.

"NPL menurun, kami minta perbankan tetap membuat cadangan agar saat dinormalkan tidak terjadi cliff effect," bebernya.

Dari sisi profitabilitas NIM perbankan nasional tercatat sedikit mengalami penurunan dari 4,53% menjadi 4,52%.

Wimboh menyebut, selain penanganan pandemi di tanah air yang membaik, ada beberapa risiko yang perlu dicermati, antara lain, normalisasi kebijakan di negara maju dan dampak dari pengurangan nilai (tapering off) oleh bank sentral Amerika Serikat yang dimulai pada akhir November ini.

"US tapering menjadi hal yang tentunya kita tunggu, mudah-mudahan [dampaknya] gak terlalu berat bagi Indonesia," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

OJK Pantau 10 Debitur Kakap Bank Rp 382 T, Resto hingga Hotel


(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading