Ini 'Biang Kerok' yang Bikin Utang Garuda Terus Menggunung!

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
12 November 2021 06:11
Maskapai nasional Garuda Indonesia resmi mengoperasikan penerbangan langsung Denpasar- Mumbai vv sebagai bagian dari komitmen pengembangan jaringan yang dilaksanakan perusahaan. Pembukaan rute yang resmi beroperasi pada 23 Apil 2018 tersebut juga diharapkan dapat memberikan lebih banyak pilihan bagi pengguna jasa yang akan bepergian menuju Mumbai dari Denpasar sekaligus memberikan kemudahan bagi wisatawan India untuk mengunjungi Indonesia. (Dok. Garuda Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (Wamen BUMN) Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan situasi terkini perihal pembicaraan dengan para lessor (perusahaan penyewa) pesawat untuk melakukan restrukturisasi utang PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) yang 'menggunung'.

Dalam paparan di Rapat Dengar Pendapat (RDP) parlemen pada Selasa (9/11/2021), Tiko, sapaan akrab Kartika Wirjoatmodjo bilang kalau aset Garuda mencapai US$ 6,93 miliar atau sekitar Rp 99 triliun (kurs Rp 14.200/US$), sementara liabilitas (kewajiban, termasuk utang) mencapai US$ 9,76 miliar atau setara Rp 140 triliun.

Dengan demikian ada ekuitas negatif US$ 2,8 miliar atau setara Rp 40 triliun. Dari jumlah kewajiban tersebut, utang dari sewa pesawat mendominasi mencapai US$ 9 miliar atau setara Rp 128 triliun.


"Kita sekarang sedang diskusi dengan kreditur apa yang kita sampaikan kemarin sudah saya paparkan... Kita sekarang sedang diskusi dengan lessor. Insya Allah mungkin dalam waktu dua bulan tiga bulan kita mungkin akan tahu respons mereka seperti apa," kata Tiko saat ditemui di Depo LRT Jabodebek, Bekasi Timur, Jawa Barat, Rabu (10/11/2021).

"Tapi kami meyakini bahwa kreditur pun pasti punya kepentingan supaya Garuda ini tetap beroperasi karena kalau Garuda tidak beroperasi mereka akan total loss," lanjutnya.

Menurut dia, dari 32 lessor, mayoritas prospektif lantaran sebagian akan dipakai lagi pesawatnya seperti Boeing 737 atau Airbus A320.

"Memang yang agak repot itu Bombardier, 777, itu kita gak akan keluar negeri lagi kan jadi nggak banyak kita pakai gitu. Mungkin 70%-80%... Kita diskusi sudah hampir dua bulan sebenarnya. Tapi karena belum ada proses legalnya belum ada yang ini karena kan saling nunggu nih," kata Tiko.

"Makanya penting untuk ada proses yang tertata, supaya ada schedule, voting, kalau nggak nanti terlalu banyak moving platform," lanjutnya.

Khusus untuk dalam negeri, Tiko menyebut negosiasi berjalan baik. Misalnya dengan vendor-vendor, termasuk dengan Pertamina dan Angkasa Pura.

"Jadi memang yang masih perlu di ini lagi itu dua bulan ke depan lessor-lessor itu," ujar Tiko.

Lantas apa saja sebetulnya masalah Garuda Indonesia?

Berikut rincian permasalahan yang dialami Garuda saat ini, dirangkum CNBC Indonesia berdasarkan keterangan Wamen BUMN Tiko, Menteri BUMN Erick Thohir, dan pemberitaan CNBC Indonesia dari manajemen perusahaan.

1. Kebanyakan Lessor Pesawat

Wamen BUMN Tiko juga menyebut saat ini jumlah lessor pesawat yang berurusan dengan Garuda Indonesia jumlahnya sangat banyak. Setidaknya saat ini terdapat sebanyak 32 lessor, padahal normalnya untuk sebuah maskapai penerbangan hanya terdapat 4-5 lessor saja.

"Ada 32 lessor dan harus nego one-on-one dan beda caranya. Airline lain cuma 4-5 lessor," kata dia.

2. Jenis Pesawat Banyak

Selain jumlah lessor yang banyak, masalah lainnya yang juga dialami Garuda adalah banyaknya jenis pesawat yang digunakan, berdampak pada inefisiensi keuangan dan tingginya biaya tiket yang ditawarkan kepada calon penumpang.

Wamen menjelaskan, setidaknya jumlah pesawat yang dimiliki Garuda saat ini sebanyak 202 pesawat dengan 13 jenis pesawat. Normalnya, kata dia, satu maskapai hanya memiliki 3-4 jenis pesawat saja.

"Nah di Garuda mulai dari 777, 737, A320, A330, ada CRJ, ATR45, ATR75. Jadi memang pesawatnya banyak sekali dan itu membuat kompleksitas pengelolaan, maintenance-nya sehingga akhirnya cost per seat-nya jadi mahal," terang dia.

3. Rute yang Tidak Menguntungkan

Garuda juga disebut banyak memiliki rute penerbangan yang tidak menguntungkan, terutama untuk rute penerbangan internasional. Sebelumnya rute penerbangan yang dimiliki Garuda sebanyak 437 rute dan rencananya akan dikurangi menjadi 140 rute saja.

"Di mana rutenya itu diperkirakan akan turun dari sekitar 437 rute jadi 140 rute. Ini jadi tantangan karena mungkin akan banyak airport yang akan mengalami kelangkaan jumlah flight karena rutenya akan kita kurang signifikan karena rutenya fokus kepada rute yang menghasilkan positif margin," terang dia.

NEXT: Apa Saja Masalah Lainnya?

Dari Dugaan Korupsi hingga Utang Menggunung
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading