Kesemsem Saham IPO Mitratel? Biar Afdal Cek Dulu Jeroannya!

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
26 October 2021 10:55
Dok Mitratel

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan menara telekomunikasi Grup Telkom, PT Dayamitra Telekomunikasi alias Mitratel direncanakan akan melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dengan target tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 22 November mendatang.

Perseroan menawarkan 25.540.000.000 saham (29,85%) dan berpotensi memperoleh dana segar senilai Rp 19,79 triliun hingga Rp 24,90 triliun, mengingat harga IPO dipatok Rp 775-975/saham.

Perusahaan bekerja sama dengan PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek dari IPO ini.


Untuk jadwalnya, penawaran awal akan dilaksanakan pada 26 Oktober-4 November 2021 dan ditargetkan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa diperoleh pada 12 November 2021.

Masa penawaran umum diperkirakan akan dilaksanakan pada 16-18 November 2021 dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditargetkan pada 22 November 2021 nanti.

Kabar IPO Mitratel sebenarnya sudah laba berembus dan sudah lama ditunggu oleh publik, mengingat ini menjadi IPO perusahaan BUMN pertama dalam 8 tahun terakhir.

Sebelumnya emiten BUMN yang terakhir kali menawarkan sahamnya kepada publik adalah PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) pada tahun 2013 silam.

Jika ditawarkan di harga tertinggi dan laris diserbu investor, IPO Mitratel berpotensi memecahkan rekor yang dicatatkan oleh PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) pada 6 Agustus lalu sebesar Rp 22 triliun.

Selain itu perusahaan telekomunikasi ini juga berpotensi langsung memimpin emiten menara dari segi kapitalisasi pasar dengan potensi mencapai Rp 83,42 triliun, mengungguli emiten menara miliki Grup Saratoga (PT Tower Bersama Infrastructure Tbk/TBIG) dan Grup Djarum (PT Sarana Menara Nusantara Tbk/TOWR).

Lalu bagaimana kinerja keuangan perusahaan sampai saat ini, apakah kondisinya sefantastis IPO yang ditawarkan?

Berdasarkan prospektus yang dirilis perusahaan, hingga akhir semester pertama tahun 2021, Mitratel berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 3,22 triliun, meningkat 10,65% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,91 triliun.

Sepanjang tahun 2020 lalu pendapatan Mitratel tercatat mencapai Rp 6,18 triliun, meningkat 16,16% dari tahun sebelumnya di mana pendapatan total perusahaan sebesar Rp 5,32 triliun, yang mana pendapatan tahun 2019 tersebut juga naik 17,70% dari tahun 2018 sebesar Rp 4,52 triliun.

Pendapatan paruh pertama Mitratel tahun ini masih lebih kecil dari emiten Grup Djarum dan lebih besar dari emiten milik Grup Saratoga.

Prospektus IPO Mitratel, 26 Oktober 2021Foto: Prospektus IPO Mitratel, 26 Oktober 2021
Prospektus IPO Mitratel, 26 Oktober 2021

Hingga tengah tahun laba bersih anak usaha Grup Telkom tercatat melonjak 356% menjadi Rp 700,7 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 153,7 miliar.

Selain itu dalam dua tahun terakhir pendapatan tahunan perusahaan juga selalu mengalami peningkkatan, dengan terakhir sepanjang tahun 2020 lalu tercatat laba bersih Mitratel sejumlah Rp 602 miliar.

Sama seperti pendapatan, laba bersih tengah tahun Mitratel lebih kecil 58% dari laba bersih TOWR dan sedikit lebih besar dari TBIG.

Hingga akhir Juni tahun ini, aset perusahaan tercatat naik 27,57% menjadi Rp 32,25 triliun dari periode akhir Desember tahun lalu yang hanya sebesar Rp 25,28 triliun. Aset ini terdiri dari aset lancar sejumlah Rp 3,61 triliun dan Rp 28,64 triliun sisanya berupa aset tidak lancar.

Total nilai aset yang dimiliki Mitratel tercatat sedikit lebih kecil dari nilai aset TOWR (Rp 34,65 triliun) dan TBIG (Rp 41,83 triliun).

Prospektus IPO Mitratel, 26 Oktober 2021Foto: Prospektus IPO Mitratel, 26 Oktober 2021
Prospektus IPO Mitratel, 26 Oktober 2021

Liabilitas perusahaan juga tercatat naik menjadi Rp 18,57 triliun dari semula posisi akhir tahun lalu di angka Rp 17,12 triliun. Liabilitas ini terdiri dari kewajiban jangka pendek sejumlah Rp 7,12 triliun, dan mayoritas sisanya berupa liabilitas jangka panjang sebesar Rp 11,45 triliun.

Ekuitas perusahaan akhir Juni 2021 tercatat melonjak hingga 67,64% menjadi Rp 13,68 triliun dari semula senilai Rp 8,16 triliun.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(fsd/fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading