Licin! IHSG ke Zona Merah, Ini Saham-saham Biang Keroknya

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
25 October 2021 14:47
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah menghijau hingga penutupan sesi I, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot ke zona merah pada lanjutan sesi II perdagangan Senin (25/10/2021), di tengah aksi jual yang dilakukan investor terhadap saham-saham unggulan (blue chip).

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 14.20 WIB atau 40 menit sebelum penutupan pasar, IHSG berayun ke zona pelemahan dengan turun 0,15% ke 6.633,657. Nilai transaksi pada perdagangan hari ini mencapai Rp 12,30 triliun dan volume perdagangan 27,09 miliar saham.

Hingga siang ini, investor asing melakukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 72,34 miliar di pasar reguler dan beli bersih Rp 2,88 triliun di pasar negosiasi dan pasar tunai.


Indeks sektor transportasi menjadi yang paling melemah, yakni minus 1,12%. Kemudian, indeks sektor barang konsumsi non siklis dan barang konsumsi siklis juga masing-masing melorot 0,83% dan 0,37%. Selain itu, indeks sektor finansial tercatat turun 0,13%.

Berikut saham-saham big cap (berkapitalisasi besar) yang menjadi pemberat pergerakan IHSG.

  1. Unilever Indonesia (UNVR), saham -3,71%, ke Rp 4.670, jual bersih asing (net sell) Rp 19,77 M

  2. Gudang Garam (GGRM), -3,08%, ke Rp 33.800, net sell Rp 14,21 M

  3. Astra International (ASII), -2,02%, ke Rp 6.050, net sell Rp 42,89 M

  4. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), -1,82%, ke Rp 4.320, net sell Rp 7,04 M

  5. Telkom Indonesia (TLKM), -1,81%, ke Rp 3.800, net sell Rp 16,14 M

  6. HM Sampoerna (HMSP), -1,79%, ke Rp 1.095, net sell Rp 2,15 M

  7. Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), -1,57%, ke Rp 6.250, net sell Rp 4,27 M

  8. Bank Mandiri (BMRI), -0,69%, ke Rp 7.150, net buy Rp 108,76 M

Dari 8 saham big cap di atas, 7 saham melemah disertai aksi lego oleh investor asing.

Selain itu, duo raksasa produsen rokok, GGRM & HMSP, dan duo bank BUMN, BBRI & BMRI, ramai-ramai dijual investor.

Saham produsen produk perawatan diri UNVR menjadi yang paling ambles, yakni 3,71% ke Rp 4.670/saham, melanjutkan pelemahan selama 2 hari terakhir. Di tengah pelemahan saham UNVR, investor asing melakukan jual bersih Rp 19,77 miliar di pasar reguler, menjadi terbesar kelima di bursa.

Saham UNVR tampaknya masih terus terkena aksi ambil untung setelah sejak awal bulan ini cenderung melesat.

Dalam sepekan saham ini ambles 11,58%, sedangkan dalam sebulan melejit 16,37%.

Kabar teranyar, UNVR membukukan laba bersih selama periode 9 bulan pertama tahun ini sebesar Rp 4,37 triliun.

Perolehan tersebut tercatat mengalami penurunan 19,31% dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 5,43 triliun.

Pada Januari sampai dengan September 2021, perseroan mencatatkan penjualan bersih senilai Rp 30,02 triliun atau turun 7,47% dari tahun sebelumnya Rp 32,45 triliun.

Di bawah UNVR, ada saham GGRM yang melorot 3,08% ke Rp 33.800/saham, dibarengi aksi net sell Rp 14,21 miliar. Dalam sepekan saham GGRM turun 2,03%, tetapi dalam sebulan naik 8,45%.

Kemudian, ada saham induk Grup Astra ASII yang terdepresiasi 2,02% ke Rp 6.050/saham. Asing mencatatkan nilai jual bersih saham ASII Rp 42,89 miliar, terbesar di bursa.

Sebelumnya, Astra baru saja melaporkan kinerja penjualan kendaraan mobil pada periode September 2021.

Sepanjang September, tercatat Astra menjual sebanyak 54.328 unit kendaraan, lebih baik dari periode yang sama di tahun sebelumnya 25.799 unit.

Perolehan ini juga lebih baik dari penjualan di bulan Agustus dengan 46.729 unit kendaraan yang terjual. Sedangkan, pada periode Januari sampai dengan September, Astra menjual sebanyak 343.837 unit kendaraan, sudah melampaui capaian penjualan sepanjang tahun 2020 yang sebanyak 270.076 unit kendaraan.

Tidak hanya ASII, saham bank pelat merah BBRI juga turun 1,82%, tertekan aksi jual asing sebesar Rp 7,04 miliar. Dalam sepekan, saham BBRI naik 0,23%, sementara dalam sebulan terkerek 13,35%.

Salah satu sentimen yang mewarnai pergerakan IHSG hari ini adalah soal perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia yang perlahan mulai terkendali.

Dari dalam negeri, satgas penanganan Covid-19 pada Minggu (25/10/2021) melaporkan penambahan kasus baru 623 kasus, terendah sejak 4 Juni tahun lalu. Penambahan kasus selalu di bawah 1.000 orang per hari sejak 15 Juni lalu.

Kasus aktif dilaporkan sebanyak 14.360 orang, berkurang 443 kasus dibandingkan Sabtu kemarin. Kasus aktif tersebut menjadi yang terendah sejak 22 Mei 2020. Rasio temuan kasus positif terhadap jumlah tes (positivity rate) berada di angka 0,46%.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batasan positivity rate maksimal 5% agar bisa dikatakan pandemi terkendali. Sekarang Indonesia sudah jauh di bawah 5%, sehingga sudah masuk kategori terkendali.

Perkembangan terbaru kasus Evergrande di China juga cenderung positif, di mana raksasa properti tersebut menyatakan bahwa pihaknya telah memulai pengerjaan 10 proyek di 6 kota besar di China, termasuk Shenzhen.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

IHSG Mau Nyusruk di Bawah 6.000, Ini Deretan Biang Keroknya!


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading