Sabar Bung! Usai Rekor, Bitcoin Balik ke Rp 909 Juta/koin

Market - chd, CNBC Indonesia
21 October 2021 09:47
Ilustrasi Bitcoin  (Photo by André François McKenzie on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mata uang kripto (cryptocurrency) berkapitalisasi pasar terbesar kompak bergairah pada perdagangan Kamis (21/10/2021) pagi waktu Indonesia, setelah bitcoin berhasil mencetak level tertinggi barunya pada Rabu (20/10/2021) kemarin.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 09:00 WIB, kedelapan kripto berkapitalisasi pasar terbesar (big cap) non-stablecoin kompak diperdagangkan di zona hijau pada pagi hari ini.

Bitcoin menguat 1,74% ke level harga US$ 64.938,47/koin atau setara dengan Rp 909.138.580/koin (asumsi kurs Rp 14.000/US$), ethereum terbang 8,51% ke level US$ 4.187,75/koin atau Rp 58.628.500/koin, binance coin melesat 3,63% ke US$ 501,38/koin (Rp 7.019.320/koin).


Selanjutnya cardano melompat 6,42% ke US$ 2,24/koin (Rp 31.360/koin), solana meroket 17,82% ke US$ 184,11/koin, ripple melompat 4,62% ke US$ 1,15/koin (Rp 16.100/koin), polkadot melayang 7,52% ke US$ 44,57% (Rp 623.980/koin), dan dogecoin terapresiasi 4,29% ke US$ 0,2539/koin (Rp 3.555/koin).

Kripto

Setelah sempat mencetak rekor barunya pada Rabu kemarin, bitcoin kini kembali diperdagangkan di kisaran level US$ 64.000, atau di atas sedikit dari level tertingginya pada April lalu.

Pada Rabu kemarin, bitcoin sukses membentuk rekor tertinggi barunya, yakni di level 66.318,49/koin atau lebih dari Rp 928 juta, melewati rekor sebelumnya di US$ 64,899/BTC yang dicapai pada pertengahan April lalu.

Bitcoin selama ini memang digadang-gadang sebagai emas digital, meski menimbulkan banyak perdebatan. Pada tahun lalu kedua aset ini sama-sama melesat, tetapi di tahun ini beda ceritanya. Sepanjang tahun ini bitcoin melesat lebih dari 127%, sementara emas justru melemah lebih dari 6%.

Padahal emas secara tradisional dianggap aset lindung nilai terhadap inflasi. Dan inflasi (berdasarkan personal consumption expenditure/PCE) di Amerika Serikat saat ini berada di level tertinggi dalam 3 dekade, begitu juga inflasi di negara-negara Eropa yang sedang tinggi.

Selain itu, mulai diperdagangkannya exchange trade fund (ETF) berbasis bitcoin berjangka (futures) pada hari ini turut mengerek naik harga mata uang kripto paling populer dengan kapitalisasi pasar terbesar ini. ProShares Bitcoin Strategy ETF, yang mulai diperdagangkan Selasa (19/10/2021) lalu mencatat kenaikan sekitar 5%.

Meski demikian, tidak semuanya analis tertarik dengan ETF ini, sebab berbasis futures bukan spot.

"Semakin banyak produk akan semakin bagus, tetapi saya tidak melihat menariknya berinvestasi di ETF berbasis bitcoin futures ketika anda bisa membeli aset di pasar spot," kata Jodie Gunzberg, direktur pelaksana di CoinDesk Indexes.

Alex Kuptsikevich, analis senior di FxPro memperingatkan bahwa jika para trader gagal mempertahankan reli, maka bitcoin mungkin saja akan terjatuh kembali, meskipun kejatuhannya tidak sampai ke bawah kisaran level US$ 60.000.

"Bitcoin kini rawan terjadi koreksi dan memicu aksi ambil untung yang agresif oleh investor besar yang membuka posisi selama rebound dari US$ 30.000." kata Kuptsikevich, dikutip dari CoinDesk.

Meskipun ancaman koreksi dan aksi jual tetap ada, namun beberapa trader di pasar option memperkirakan adanya pergerakan harga yang lebih besar di bitcoin.

"Volatilitas tersirat merayap lebih tinggi setelah melonjak karena sentimen dari persetujuan ETF bitcoin," kata Gregoire Magadini, CEO Genesis Volatility, dilansir dari CoinDesk.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading