Berembus Makin Kencang, Ada Rumor BNI Bakal Akuisisi Bank

Market - Rahajeng KH, CNBC Indonesia
17 October 2021 19:00
Topang Pertumbuhan Ekonomi, BNI Dorong Peningkatan Kredit

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun ini menjadi momentum yang menjanjikan bagi bank digital, karena menjadi pusat perhatian. Bukan hanya perbankan, tapi juga korporasi, konglomerat hingga perusahaan rintisan alias startup berlomba-lomba masuk.

Tren ini pun sejalan dengan rencana dari regulator soal mengkonsolidasikan industri perbankan agar lebih kuat dari sisi permodalan. Konsekuensinnya banyak bank-bank kecil, kategori BUKU I, dijual dan dibeli oleh pemodal besar dan konglomerasi.

Kini banyak bank-bank kecil yang berubah menjadi bank digital, seperti yang dilakukan PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) yang secara gamblang telah mempersiapkan bisnisnya menuju bank digital setelah diakuisisi oleh Akulaku.


Lalu ada PT Bank Harda Internasional yang kini menjadi PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) yang baru saja diakuisisi Mega Corpora akan menjadi sebuah bank digital. Rencana ini akan dilakukan setelah proses akuisisi oleh Mega Corpora selesai.

Bank lainnya juga akan melakukan hal yang sama adalah PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW) saat ini tengah fokus dalam pengembangan inovasi digital, mulai dari pembukaan rekening hingga deposito berjangka online.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mengakuisisi Bank Royal yang kemudian bertransformasi menjadi bank digital. Terbaru yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang dikabarkan akan melakukan akuisisi bank lain sebagai langkah transformasi digital.

Sebelumnya pada saat paparan kinerja kuartal II-2021 beberapa waktu yang lalu, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, pihaknya memiliki image digital seiring transformasi digital yang dilakukan, sehingga strategi yang berjalan salah satunya menjadi digital bank.

"Masih lihat subjeknya apakah modalnya ada, kemampuan ada, tapi kajiannya sudah ada. Kami semua sudah punya kajiannya, cuma kriteria untuk menjadi digital bank harus dipersiapkan dengan baik bukan sekedar ikut-ikutan," kata Royke kepada CNBC Indonesia pada Juli.

Dia menambahkan, pihaknya memiliki kriteria untuk menjadi bank digital, harus memiliki kriteria dan tidak asal ambil. Royke menegaskan teknologi menjadi penting yang menjadi pertimbangan.

"Kalau teknologi tidak punya, kita tidak akan bisa jadi bank digital. Kuncinya di teknologi," ujar dia.

Head of Investment Avrist Asset Management Tubagus Farash Akbar Farich mengatakan ke depannya tren akuisisi masih akan relevan ke depannya, dan konsolidasi masih akan berlangsung. Hal ini dilakukan terutama untuk menggalang kekuatan dalam menghadapi situasi sulit di 2020 dan 2021 karena pandemi Covid-19.

"Jadi saya rasa tren akuisisi masih akan relevan ke depannya, karena konsolidasi ini bisa untuk strategi untuk menghadapi masa sulit ini," kata dia.

Untuk BNI sendiri, dia menilai akuisisi berpotensi dilakukan sebagai upaya untuk bisnis bank digital. Apalagi BNI akan menjadi bank utama dari Indonesia di pasar luar negeri.

Pada awal tahun, Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso menyebut tahun ini diharapkan akan lebih banyak lembaga jasa keuangan yang melakukan penggabungan usaha atau merger maupun akuisisi.

Menurut Wimboh, dengan mempertimbangkan persaingan industri jasa keuangan ke depan yang akan semakin ketat dengan era digitalisasi. Dengan demikian, kebutuhan modal juga harus semakin kuat, terutama di sektor perbankan.

"Trennya [di 2021] akan lebih banyak lagi bank yang melakukan akuisisi dan merger," kata Wimboh saat itu.


[Gambas:Video CNBC]

(rah/rah)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading