Kripto Bikin Migrain Xi Jinping & Putin, Ini Biang Keroknya!

Market - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
16 October 2021 14:30
FILE PHOTO: Bitcoin (virtual currency) coins placed on Dollar banknotes, next to computer keyboard, are seen in this illustration picture, November 6, 2017.  REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah pejabat negara adidaya nampaknya 'risih' dengan pesatnya perkembangan Mata uang digital cryptocurrency atau kripto. Pasalnya, kripto tidak perlu adanya bank sentral sebagaimana aturan mata uang fisik. Di sisi lain, ia kini sudah menjadi alat pembayaran untuk banyak hal karena dianggap memiliki nilai seperti mata uang konvensional dan lebih efisien.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan kripto memang makin merajalela, meski ia mengatakan tidak yakin cryptocurrency dapat menggantikan dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan minyak, misalnya.

Hal ini dikemukakannya dalam wawancara di Moskow, Rabu (13/10/2021). "Terlalu dini untuk berbicara tentang perdagangan sumber daya energi dalam crypto," kata Putin, saat ditanya apakah mata uang digital itu dapat digunakan sebagai alternatif dolar AS, dikutip dari CNBC International, Sabtu (16/10).


"Saya percaya itu memiliki nilai. Tapi saya tidak percaya itu bisa digunakan dalam perdagangan minyak," lanjutnya.

Putin mengatakan cryptocurrency belum memiliki dukungan apapun. "Ini mungkin ada sebagai alat pembayaran, tapi saya pikir terlalu dini untuk mengatakan tentang perdagangan minyak dalam cryptocurrency," tambahnya.

Pemimpin Rusia itu juga menandai konsumsi energi besar-besaran kripto sebagai penghalang potensial untuk penggunaannya. Bitcoin membutuhkan banyak daya komputasi untuk memproses transaksi dan mencetak token baru.

Selain Rusia, China saat ini telah memasukkan penambangan uang kripto seperti Bitcoin dalam daftar draf industri yang dibatasi atau dilarang untuk investasi. Sektor ini berada dalam 'daftar negatif' ini merinci sektor dan industri yang terlarang bagi investor China dan asing.

Pemerintah yang dipimpin Presiden Xi-Jinping memang sudah melarang perdagangan dan penambangan kripto tahun ini. Bank sentral China juga berkomitmen untuk membersihkan aktivitas cryptocurrency ilegal bulan lalu.

Atas kebijakan, dua bursa penukaran cryptocurrency terbesar, Huobi dan Binance, memutuskan hubungan dengan pengguna di China. Huobi menghentikan pendaftaran pengguna baru dari China daratan dan akan mengakhiri kontrak dengan pengguna di China paling lambat akhir tahun ini.

"Huobi Global akan keluar secara tertib dari client China Dataran yang ada dan menjamin keamanan aset yang mereka miliki," ungkap Huobi.


[Gambas:Video CNBC]

(cha/cha)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading