Aksi Ambil Untung Menerpa, IHSG Terkoreksi di Closing Sesi 1

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
15 October 2021 12:08
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berayun di zona merah pada penutupan perdagangan sesi pertama Jumat (15/10/2021), menyusul aksi ambil untung pemodal menjelang akhir pekan.

Menurut data PT Bursa Efek Indonesia, IHSG berakhir di level 6.589,348 atau drop 36,8 poin (-0,55%) pada penutupan siang. Dibuka lompat 0,29% ke 6.645,26, indeks acuan utama bursa ini sempat menyentuh level tertingginya pada 6.680,009 tepat pukul 09:00 WIB.

Namun, selepas itu IHSG berbalik turun hingga menyentuh level terendah hariannya pada 6.573,343 beberapa menit jelang pukul 11:00 WIB. Mayoritas saham terkoreksi, yakni sebanyak 271 unit, sedangkan 202 lain menguat, dan 181 sisanya flat.


Nilai perdagangan masih tinggi, sebesar Rp 10,2 triliun yang melibatkan 12 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 853.000-an kali. Investor asing masih mencetak pembelian bersih (net buy), kali ini senilai Rp 308,15 miliar.

Saham yang mereka borong terutama adalah saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan nilai pembelian bersih masing-masing sebesar Rp 411,9 miliar dan Rp 80,5 miliar. Saham BBRI menguat 0,24% ke Rp 4.260 tetapi BMRI turun 0,7% ke Rp 7.125/unit.

Sebaliknya, aksi jual asing menimpa saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan nilai penjualan bersih masing-masing sebesar Rp 78 miliar dan Rp 64,1 miliar. Kedua saham tersebut terkoreksi masing-masing sebesar 2,9% dan 2,35% menjadi Rp 7.525 dan Rp 5.200/saham.

Dari sisi nilai transaksi, BBRI masih memimpin dengan nilai total perdagangan sebesar Rp 745 miliar, diikuti BBCA senilai Rp 690,6 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) senilai Rp 414,8 miliar. Saham ANTM melesat 1,2% menjadi Rp 2.450/unit.

Koreksi terjadi di tengah antisipasi pemodal terhadap data neraca perdagangan September, yang diprediksi berujung angka US$ 3,9 miliar, atau melemah dari neraca perdagangan Agustus sebesar US$ 4,7 miliar-yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa. Menurut catatan Tim Riset CNBC Indonesia, rekor sebelumnya tercipta pada Desember 2006 yaitu US$ 4,64 miliar.

Sembari memantau data neraca perdagangan, pelaku pasar merealisasikan keuntungan mereka yang dicetak sepekan ini, terutama di tengah risiko masih adanya tekanan ekonomi dunia sebagaimana proyeksi Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF).

Pada Selasa kemarin, IMF merilis laporan World Economic Outlook dan memangkas prospek pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,1 poin persentase dibanding proyeksi bulan Juli lalu menjadi 5,9%.

Di sisi lain, proyeksi ekonomi kawasan Asia Tenggara juga diturunkan sebesar 1,4 poin, yakni untuk kelompok "ASEAN-5" yang beranggotakan Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sempat Tergelincir pada Pagi, IHSG Berakhir Menguat di Sesi 1


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading