Inflasi AS Kembali Meninggi, Yield SBN Kembali Melemah

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
14 October 2021 19:10
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kembali menguat pada perdagangan Kamis (14/10/2021), di tengah sentimen meningginya inflasi di beberapa negara, terutama di Amerika Serikat (AS).

Mayoritas investor kembali ramai memburu SBN pada hari ini, ditandai dengan kembali melemahnya imbal hasil (yield). Hanya SBN bertenor 1, 3, dan 20 tahun yang masih dilepas oleh investor dan mengalami kenaikan yield.

Melansir data dari Refinitiv, yield SBN bertenor 1 tahun menguat 2,4 basis poin (bp) ke level 3,221%, sedangkan yield SBN berjatuh tempo 3 tahun naik signifikan 6 bp ke level 3,95%, dan yield SBN dengan tenor 20 tahun juga naik 4,8 bp ke level 7,244%.


Sementar, yield SBN bertenor 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi pemerintah kembali melemah 4,8 bp ke level 6,294% pada hari ini. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Pergerakan yield SBN pada hari ini cenderung mengikuti pergerakan yield obligasi pemerintah AS (Treasury) yang terpantau melemah pada pagi hari ini waktu AS.

Dilansir data dari CNBC International, yield Treasury acuan bertenor 10 tahun turun 2,3 bp ke level 1,526% pada pukul 07:07 pagi waktu AS, dari sebelumnya pada penutupan perdagangan Rabu (13/10/2021) kemarin di level 1,549%.

Meskipun terpantau melemah, namun pergerakan yield Treasury tenor 10 tahun masih cenderung volatil pada hari ini. Kemarin, yield Treasury tenor 10 tahun sempat bergerak volatil, di mana pada awal perdagangan kemarin, yield Treasury sempat melesat ke atas 1,6%, tetapi menjelang akhir perdagangan kemarin, yield Treasury turun ke level 1,5525%.

Kenaikan yield menjadi artinya pelaku pasar melepas kepemilikan Treasury, sebab ada ekspektasi suku bunga akan dinaikkan, sehingga yield yang rendah menjadi kurang menarik.

Saat yield berbalik turun, artinya kembali ada aksi beli. Hal ini bisa menjadi mengindikasikan pelaku pasar cemas akan outlook perekonomian ke depannya, dan memilih bermain aman di aset safe haven.

Rabu kemarin, Pemerintah AS melaporkan inflasi yang dilihat dari consumer price index (CPI) di bulan September dilaporkan tumbuh 0,4% dari bulan sebelumnya, lebih tinggi dari hasil polling Reuters terhadap para ekonom sebesar 0,3%.

Sementara itu dibandingkan September 2020, inflasi melesat 5,4%, lebih tinggi dari pertumbuhan bulan Agustus 5,3% (year-on-year/YoY). Inflasi tersebut merupakan yang tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Sementara itu inflasi inti yang tidak memasukkan sektor makanan dan energi, tumbuh 0,2% (month-on-month/MoM), dan 4% YoY. 

Inflasi merupakan salah satu acuan utama bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam menerapkan kebijakan moneter, untuk saat ini adalah kapan waktunya tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE).

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading