Gainers-Losers Sesi I

Duo Saham Batu Bara Melejit, Saham Royal Prima Kena ARB

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
23 September 2021 12:24
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dua saham emiten tambang batu bara, PT Harum Energy Tbk (HRUM) dan PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) menjadi top gainers pada paruh pertama perdagangan hari ini, Kamis (23/9/2021).

Sementara, saham pengelola rumah sakit (RS) Royal Prima PT Royal Prima Tbk (PRIM) menjadi top gainers, usai naik hingga menyentuh batas auto rejection atas (ARA) pada perdagangan kemarin.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menghijau hingga siang ini. IHSG naik 0,43% ke posisi 6.134,315 pada penutupan sesi I perdagangan Kamis (23/9).

Menurut data BEI, 268 saham terapresiasi, 219 saham terkoreksi dan 165 saham tak bergerak, dengan nilai transaksi mencapai Rp 7,79 triliun dan volume perdagangan mencapai 16,46 miliar saham.

Investor asing pasar saham masuk ke bursa RI dengan catatan beli bersih asing mencapai Rp 481,44 miliar di pasar reguler. Sementara, asing mencatatkan jual bersih di pasar negosiasi dan pasar tunai sebesar Rp 72,35 miliar.

Berikut 5 saham top gainers dan losers sesi I hari ini (23/9).

Top Gainers

  1. Mitra Investindo (MITI), saham +34,74%, ke Rp 128, transaksi Rp 13,0 M

  2. Ancora Indonesia Resources (OKAS), +28,40%, ke Rp 104, transaksi Rp 45,1 M

  3. Andalan Sakti Primaindo (ASPI), +21,62%, ke Rp 90, transaksi Rp 15,5 M

  4. Harum Energy (HRUM), +19,91%, ke Rp 6.475, transaksi Rp 135,0 M

  5. Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS), +8,89%, ke Rp 98, transaksi Rp 31,2 M

Top Losers

  1. Royal Prima (PRIM), saham -6,83%, ke Rp 382, transaksi Rp 33,6 M

  2. Digital Mediatama Maxima (DMMX), -6,79%, ke Rp 2.610, transaksi Rp 124,8 M

  3. Darmi Bersaudara (KAYU), -6,25%, ke Rp 75, transaksi Rp 9,2 M

  4. Primarindo Asia Infrastructure (BIMA), -6,25%, ke Rp 210, transaksi Rp 10,3 M

  5. HK Metals Utama (HKMU), -6,06%, ke Rp 62, transaksi Rp 27,8 M

Saham HRUM melejit hingga ARA 19,91% ke Rp 6.475/saham, melanjutkan kenaikan 3,35% pada perdagangan kemarin. Praktis, dalam sepekan saham ini terkerek 20,47% dan dalam sebulan melesat 32,96%.

Saham batu bara lainnya, BOSS, naik 8,89% ke Rp 98/saham, usai melejit 8,43% pada Rabu kemarin. Dalam sepekan saham BOSS naik 11,36%, sedangkan dalam sebulan melonjak 40,00%.

Kenaikan kedua saham batu bara ini bersamaan dengan menguatnya belasan saham batu bara lain, di tengah harga batu bara yang kembali melesat dan menuju rekor baru.

Kemarin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat US$ 182,75/ton. Melejit 2,5% dibandingkan hari sebelumnya sekaligus menjadi rekor tertinggi setidaknya sejak 2008.

Batu bara adalah salah satu komoditas dengan kenaikan harga paling tinggi pada tahun ini. Sejak akhir 2020 (year-to-date), harga si batu hitam meroket 123,6%.

Batu bara tidak gentar meski ada 'gertakan' dari China. Dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Presiden China Xi Jinping menegaskan komitmen negaranya untuk menuju karbon netral pada 2060.

Selain itu, ada alasan lain yang membuat batu bara sulit ditinggalkan, setidaknya dalam waktu dekat. Sebagai sumber energi primer untuk pembangkit listrik, batu bara masih lebih ekonomis dibandingkan sumber lainnya.

'Pesaing' terdekat batu bara adalah gas alam. Masalahnya, sekarang harga gas pun mahal, naik terus.

Pada Kamis (23/9/2021) pukul 07:57 WIB, harga gas di Henry Hub (Oklahoma, AS) tercatat US$ 4,77/MMBtu. Secara ytd, harga gas alam melonjak 88,14%.

Sementara, saham PRIM anjlok hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 6,83% ke Rp 382/saham, setelah menyentuh ARA 25,00% kemarin.

Kabar teranyar, berdasarkan keterbukaan informasi pada Selasa (21/9), PRIM mengumumkan akan melakukan pembelian kembali (buyback) saham dengan jumlah maksimum sebesar Rp 10 miliar.

"Sehubungan dengan kondisi perekonomian nasional dan regional yang mengalami perlambatan akibat merebaknya wabah COVIDÔÇÉ19, yang ditetapkan sebagai Kondisi Lain sebagaimana dimaksud Pasal 1 angka 1 huruf b POJK No. 2/2013, membuka peluang bagi Perseroan untuk melakukan pembelian kembali sebagian sahamnya, sehingga dapat lebih mencerminkan kinerja Perseroan," jelas manajemen PRIM, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (23/9).

Sesuai dengan SEOJK No. 3/2020, jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari jumlah modal disetor, serta dengan ketentuan paling sedikit saham yang beredar adalah 7,5% dari modal disetor dalam Perseroan.

Adapun periode pembelian kembali saham berlangsung pada 22 September 2021 sampai 22 Desember 2021.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Saham Pendatang Baru Ini Jadi Top Loser dan Top Gainer Sesi 1


(adf/adf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading