Tak Hanya Dapat Kredit, UMKM Pun Bisa Ikut Memiliki BRI

Market - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
22 September 2021 21:22
Pekerja menyelesaikan pembuatan sepatu gunung di workshop sepatu gunung mokzhaware di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan, Senin (7/6/2021). Bahan yang digunakan terbuat dari bahan baku kulit Nubuck. Dalam sehari pabrik ini bisa memproduksi 50 pasang sepatu. Usmar Ismail (42) mendirikan sebuah brand lokal di bidang fashion sepatu sekitar tahun 2016 lalu. Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan para pengusaha untuk bisa bertahan di tengah pandemi covid-19, yang pertama adalah terus melakukan inovasi dan tanggap terhadap kebutuhan market online,

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi salah satu emiten dengan kinerja yang moncer setiap tahun bahkan menjadi perbankan yang tahan banting saat pandemi.

Hingga akhir Semester I-2021, BRI mengantongi laba Rp 12,54 triliun atau tumbuh 22,93% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Keberhasilan BRI mencatatkan kinerja cemerlang tersebut merupakan hasil dari strategi transformasi BRI yang telah dipersiapkan sejak jauh hari.

Hingga akhir Juni 2021, penyaluran kredit BRI secara konsolidasian sebesar Rp. 929,40 triliun, tumbuh positif dibandingkan dengan penyaluran kredit BRI pada akhir kuartal II 2020 sebesar Rp 922,97 triliun.


Lebih rinci kredit mikro BRI tercatat sebesar Rp.366,56 triliun atau tumbuh 17% yoy. Hal ini memperkuat komitmen BRI untuk fokus dalam pengembangan bisnis mikro dengan komposisi kredit mikro mencapai 39,44% dari total penyaluran kredit BRI.

Pencapaian ini membuat proporsi kredit UMKM BRI merangkak naik menjadi 80,62% dibanding 78,58% pada periode yang sama tahun lalu. Perseroan pun mampu menjaga rasio kredit bermasalah (NPL) dengan baik. Tercatat NPL BRI pada akhir kuartal II tahun 2021 sebesar 3,30% dengan NPL Coverage mencapai 254,84%.

Keberhasilan BRI menjaga NPL ini tak lepas dari kian landainya tren restrukturisasi kredit terdampak COVID, dimana hingga akhir Juni 2021 tercatat outstanding kredit restrukturisasi akibat Covid sebesar Rp 175,16 triliun atau telah turun sebesar Rp 56,3 triliun dari total akumulasi kredit restrukturisasi.

Dari sisi liabilities, BRI mampu mencatatkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga sebesar 2,23% yoy, atau tercatat sebesar Rp 1.096,45 triliun pada akhir Juni 2021. Dana murah (CASA) masih mendominasi struktur pendanaan BRI, dimana tercatat sebesar 59,56% atau tumbuh signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 55,81%.

Dalam proforma penggabungan holding ultra mikro yang telah dipublikasikan sebelumnya, total aset BRI pada Maret 2021 kana menembus Rp 1.515 triliun dengan liabilitas sebesar Rp 1.289 triliun. Proforma ini menggunakandasar kuartal I 2021 yang tentunya lebih rendah dari saat ini yang sudah hampir tutup buku dalam kuartal III-2021.

Selain itu proforma pendapatan akan meningkat dari Rp 40 triliun menjadi Rp 47 triliun. Adapun proforma laba bersih akan meningkat Rp 1 triliun pada 1 kuartal dari Rp 7 triliun menjadi Rp 8 triliun. Bila disetahunkan maka laba BRI akan meningkat setara dengan Rp 4 triliun setelah PNM dan Pegadaian bergabung ke dalam BRI.

Setelah menikmati sederet manfaat yang diberikan BRI, nasabah dalam hal ini pelaku UMKM bisa menjadi pemilik langsung dari perusahaan plat merah ini. Pelaku UMKM yang bisa dikategorikan sebagai investor ritel ini bisa mencoba membeli saham BBRI dengan modal 'receh'.

Bahkan, dengan modal kurang dari Rp 500 ribu, investor ritel sudah bisa membeli saham BBRI dan secara tidak langsung menjadi pemegang sahamnya. Pada pembukaan perdagangan sesi I Selasa (21/9/2021) harga saham BBRI ditawarkan Rp 3.530 per saham. Artinya, dengan modal Rp 353.000 seorang investor sudah bisa membeli 1 lot (100 lembar) saham BBRI.

Ada beberapa alasan keuntungan membeli saham BBRI. Misalnya, harga saham yang cenderung naik setiap tahunnya meski saat pandemi seperti saat ini, harga saham BBRI cenderung mengalami penurunan.

Namun, justru ini adalah saat yang tepat membeli saham BBRI. Ibaratnya, membeli barang bagus dengan harga lebih murah. Berdasarkan data RTI, dalam kurun 3 tahun terakhir, harga sahamnya mengalami kenaikan 13,63%. Bahkan, data 5 tahun terakhir menunjukkan kenaikan lebih dari 50%.

Pada 3 tahun yang lalu, harga saham BBRI berada di kisaran Rp 2.391 per saham. Jika melihat data sekarang di mana sahamnya sudah berada di level Rp 3.500 per saham, artinya ada potensi kenaikan di masa depan.

Selain keuntungan dari kenaikan saham ini, investor juga bakal mendapatkan keuntungan dari pembagian deviden. BRI dikenal sebagai salah satu emiten yang setiap tahun kerap membagikan deviden.

Baru-baru ini, Direktur Utama BRI Sunarso bahkan menjanjikan pembagian dividen BRI hingga 50% per tahun. Ini terjadi karena terbentuknya holding Ultra Mikro antara BRI, Pegadaian dan PNM.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rights Issue Jumbo, Begini Prospek Saham BBRI


(dob/dob)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading