Kecemasan Evergrande Memudar, Dow Futures Lompat 200 Poin

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
22 September 2021 19:51
FILE - In this March 18, 2020, file photo traders at the New York Stock Exchange watch President Donald Trump's televised White House news conference in New York. When President Donald Trump speaks, financial markets gyrate and quiver in real time. (AP Photo/Mark Lennihan, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) berbalik menguat pada perdagangan Rabu (22/9/2021), jelang keputusan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mengenai arah kebijakan moneternya ke depan.

Kontrak futures indeks Dow Jones Industrial Average melompat 200 poin (+0,6%) dari nilai wajarnya, sementara kontrak serupa indeks S&P 500 dan Nasdaq kompak bertambah masing-masing sebesar 0,5% dan 0,3%.

Perhatian investor masih tertuju pada proyeksi gagal bayar Evergrande Group. Saham perseroan di bursa Hong Kong anjlok nyaris 90% sejak Juli 2020 setelah pemerintah China mengusut spekulasi yang dilakukan oleh perusahaan real estate.


Investor khawatir bahwa pemerintah China akan mengetatkan aturan properti sehingga berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi global, karena China selama ini menjadi tujuan ekspor pemasok besi, baja dan bahan konstruksi lain dari seluruh dunia.

Namun, sentimen agak membaik setelah manajemen Evergrande secara resmi menyatakan akan membayar bunga utang obligasinya tepat waktu. Saham komoditas pun memimpin penguatan di sesi pra-pembukaan hari ini. Saham Freeport-McMoRan dan Exxon menguat.

Sebaliknya, saham FedEx ambruk 5% di sesi pra-pembukaan setelah laba bersihnya anjlok arena kenaikan biaya tenaga kerja. FedEx juga memangkas proyeksi kinerjanya untuk setahun penuh pada 2021.

"Kita masih dalam posisi di mana saham akhirnya akan menguat tajam dari sini, kecuali Evergrande memiliki efek seismik yang nyata terhadap ekonomi AS. Fundamental ekonomi AS dalam kondisi yang baik," tutur analis Fundstrat Tom Lee kepada CNBC International.

The Fed akan mengumumkan hasil rapat 2-hari pada Rabu waktu setempat (Kamis waktu Indonesia) dan mengeluarkan pernyataan resmi mengenai proyeksi suku bunga dan pertumbuhan ekonomi.

Bos The Fed Jerome Powell telah mengatakan bahwa tapering (pengurangan suntikan likuiditas ke pasar, yang saat ini nilainya sebesar US$ 120 miliar per bulan) bisa dimulai tahun ini.

Indeks S&P 500 sepanjang September telah anjlok 3,7% sejauh ini, termasuk koreksi sebesar 1,7% pada Senin, menjadi yang terburuk sejak Mei. Dow Jones sepanjang September terhitung longsor 4%.

Mayoritas indeks mencoba berbalik menguat (rebound) pada perdagangan kemarin, tapi gagal dengan indeks Dow Jones dan S&P 500 berakhir di zona merah, menjadi yang keempat hari secara beruntun.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading