Rupiah Menari-nari Saat Ada Isu Tak Sedap dari AS & China

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
21 September 2021 18:30
FILE PHOTO: An Indonesia Rupiah note is seen in this picture illustration June 2, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di tengah adanya sentimen pasar yang memburuk karena adanya kasus Evergrande Group, raksasa properti asal China yang nyaris gagal bayar atau default.

"Nilai tukar rupiah menguat di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang belum sepenuhnya mereda," jelas Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Selasa (21/9/2021).


Adapun, lanjut Perry nilai tukar rupiah pada 20 September 2021 menguat 0,94% secara rerata dan 0,18% secara point to point dibandingkan dengan level pada Agustus 2021.

Penguatan nilai tukar Rupiah didorong oleh persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik, terjaganya pasokan valas domestik, dan langkah-langkah stabilisasi Bank Indonesia.

"Dengan perkembangan tersebut, Rupiah sampai dengan 20 September 2021 masih mencatat depresiasi sebesar 1,35% (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2020, relatif lebih rendah dibandingkan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand," jelas Perry.

Selain itu, aliran modal asing yang masuk ke tanah air terus deras, catatan BI sejak Juli hingga 17 September 2021 investasi portofolio mencapai US$ 1,5 miliar atau setara dengan Rp 21,3 triliun.

"Jadi faktor kenapa nilai tukar rupiah itu cenderung menguat dan dengan keyakinan itu, ekonomi di Indonesia membaik, CAD yang rendah, jumlah cadangan devisa yang besar, dan perbaikan-perbaikan yang terus ada. Kecenderungan nilai tukar rupiah menguat dan setidaknya akan stabil," jelas Perry.

Adapun posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2021 meningkat menjadi sebesar US$ 144,8 miliar dolar, setara dengan pembiayaan 9,1 bulan impor atau 8,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta melampaui kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

CAD (Current Account Deficit) atau transaksi berjalan pada 2021 diperkirakan akan tetap rendah pada kisaran 0,6% sampai 1,4% dari PDB, sehingga akan mendukung ketahanan sektor eksternal Indonesia.

Bank Indonesia, kata Perry akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar.

Seperti diketahui, hingga pukul 15.07 WIB di kurs tengah BI atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menguat tipis 0,05% pada level Rp 14.244/US$. Sementara di pasar spot, juga menguat tipis 0,04% ke Rp 14.235/US$.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rupiah Anjlok atas Dolar AS, BI Buka Suara!


(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading