Rupiah Melemah ke Rp 14.240/US$, Dolar AS Juga Enggan Menguat

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
20 September 2021 15:57
Dollar AS - Rupiah (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jelang pengumuman kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) Kamis nanti, rupiah berakhir di zona merah. Sejak pembukaan perdagangan, rupiah sudah langsung melemah melawan dolar AS dan tidak sekali pun mencicipi zona hijau.

Melansir data dari Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah 0,11% ke Rp 14.240/US$, setelahnya depresiasi membengkak hingga 0,35% di Rp 14.275/US$.
Setelahnya, rupiah berhasil memangkas pelemahan, hingga mengakhiri perdagangan Senin (20/9) di Rp 14.240/US$ di pasar spot.

Para pelaku pasar saat ini lebih memilih wait and see, sebab The Fed Kamis (23/9) dini hari berpeluang memberikan detail mengenai tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE).


Pasca rilis data tenaga kerja AS yang mengecewakan, serta inflasi yang melambat, pelaku pasar mulai ragu apakah The Fed akan segera melakukan tapering atau mungkin menundanya.

Dengan kondisi penuh ketidakpastian rupiah jadi tidak diuntungkan. Dolar AS pun belum mampu menguat "gila-gilaan".

Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya mengindikasikan jika tapering akan tepat dilakukan di tahun ini. Beberapa pejabat elit The Fed juga sudah terang-terangan mengatakan ingin melakukan tapering di bulan November.

Sementara sebanyak 60% dari ekonom dalam survei terbaru Reuters mengatakan The Fed akan melakukan tapering pertama pada bulan Desember.

Pelaku pasar melihat kapan tapering akan dilakukan tergantung pada rilis data ekonomi AS di bulan Oktober nanti. Tetapi, The Fed tentunya harus menyampaikan hal tersebut pada pengumuman kebijakan moneter kali ini, dan hal tersebut dikatakan akan tricky.

"Sulit untuk antusias mulai melakukan tapering jika laju pemulihan pasar tenaga kerja memburuk" kata William English, sebagaimana dilansir Reuters.

English merupakan profesor di Yale School of Management, serta mantan pejabat The Fed yang ikut menginisiasi program pembelian aset di tahun saat krisisi finansial global melanda di tahun 2007-2009.

"Mereka (The Fed) ingin melihat lebih banyak data. Dan jika mengecewakan lagi, mereka harus kembali menunggu .... Itu akan menjadi pernyataan yang tricky. Mereka ingin membuka ruang, tetapi tidak berkomitmen, itulah misi mereka," kata English

Jika benar The Fed mengindikasikan bisa menunda tapering jika diperlukan, hal itu bisa menjadi game changer yang akan membuat dolar AS terpuruk dan rupiah bisa menguat tajam.

Selain tapering, pengumuman kali ini juga berisi dot plot, yakni proyeksi suku bunga The Fed dalam beberapa tahun ke depan. Dot plot edisi sebelumnya menunjukkan mayoritas anggota dewan The Fed melihat suku bunga akan naik di tahun 2023, dan sebanyak 2 kali. Beberapa pejabat The Fed juga melihat kemungkinan suku bunga dinaikkan tahun depan.

Menurut Marshall Gitter dari perusahaan pialang BDSwiss, jika ada tambahan 2 anggota The Fed merubah proyeksi mereka dan melihat suku bunga naik tahun depan, maka akan merubah proyeksi dot plot, dan mayoritas melihat suku bunga akan naik tahun depan.

"Jadi, sangat mungkin mereka akan merubah proyeksi dari tidak ada kenaikan suku bunga menjadi kenaikan satu kali di tahun depan," kata Marshall.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading