Sikap Investor Cenderung Beragam, Harga SBN Ditutup Mixed

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
17 September 2021 19:16
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) ditutup beragam pada perdagangan Jumat (17/9/2021) akhir pekan ini, di tengah naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun.

Sikap investor di pasar SBN pada hari ini cenderung beragam, di mana pada SBN bertenor 1, 5, 15, dan 25 tahun, investor masih ramai memburu SBN, ditandai dengan turunnya imbal hasil (yield) dan penguatan harga.

Sedangkan sisanya, yakni SBN berjatuh tempo 3, 10, 20, dan 30 tahun cenderung dilepas oleh investor, ditandai dengan naiknya yield dan pelemahan harga


Melansir data dari Refinitiv, dari sisi SBN yang mengalami pelemahan yield, SBN bertenor 1 tahun menjadi yang terbesar pelemahan yield-nya pada hari ini, yakni mencapai 6,8 basis poin (bp) ke level 3,276%.

Sedangkan dari sisi SBN yang mengalami penguatan yield, SBN berjatuh tempo 30 tahun menjadi yang paling besar kenaikannya pada hari ini, yakni mencapai 1,3 bp ke level 6,816%.

Sementara itu, yield SBN bertenor 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi negara berbalik menguat 0,3 bp ke level 6,163% pada hari ini. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga naiknya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Beragamnya pergerakan yield SBN pada hari ini terjadi di tengah menguatnya yield surat utang pemerintah AS (Treasury) acuan bertenor 10 tahun yang juga menguat pada perdagangan pagi hari waktu AS.

Dilansir data dari CNBC International, yield Treasury acuan bertenor 10 tahun terpantau menguat 1 bp ke level 1,341% pada pukul 07:02 pagi waktu AS, dari sebelumnya pada penutupan Kamis (16/9/2021) kemarin di level 1,331%.

Naiknya yield Treasury acuan bertenor 10 tahun terjadi setelah data penjualan ritel Negeri Paman Sam periode Agustus 2021 dirilis, di mana data penjualan ritel AS tumbuh lebih baik.

Pada Agustus 2021, penjualan ritel di Negeri Adidaya tumbuh 0,7% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Jauh membaik ketimbang Juli 2021 yang minus 1,8% mtm. Juga jauh lebih baik dari konsensus pasar yang dihimpun Reuters dengan perkiraan minus 0,8%.

"Konsumsi di AS tidak berkurang sebanyak yang diperkirakan. Ekonomi masih bergeliat," ujar Chris Low, Kepala Ekonom FHN Financials yang berbasis di New York, seperti dikutip dari ReutersHal inilah yang menjadi alasan sementara investor di pasar obligasi pemerintah AS untuk kembali melepas Treasury bertenor 10 tahun.

Namun, pelaku pasar masih menilai peluang percepatan tapering (pengurangan aktivitas pembelian surat utang di pasar sekunder) sebenarnya masih tergerogoti oleh data pengangguran yang masih buruk.

Klaim tunjangan pengangguran AS pekan lalu tercatat menyentuh 332.000, atau lebih buruk dari prediksi ekonom dalam polling Dow Jones yang memperkirakan angka 320.000.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Investor Khawatir Covid-19 RI Melonjak, Harga SBN Menguat


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading