Volatil! Harga Bitcoin cs Loyo Lagi, hanya Polkadot yang Joss

Market - chd, CNBC Indonesia
17 September 2021 09:55
Ilustrasi Bitcoin  (Photo by André François McKenzie on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas mata uang kripto (cryptocurrency) berkapitalisasi pasar terbesar kembali melemah pada perdagangan Jumat (17/9/2021) pagi waktu Indonesia, setelah pada perdagangan kemarin sempat rebound.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 09:00 WIB, dari delapan kripto berkapitalisasi terbesar non-stablecoin, hanya polkadot yang masih mampu bertahan di zona penguatan pada hari ini.

Polkadot menguat 0,73% ke level harga US$ 36,35/koin atau setara dengan Rp 517.988/koin (asumsi kurs hari ini Rp 14.250/US$).


Sementara sisanya kembali berbalik arah ke zona pelemahan pada hari ini. Bitcoin turun tipis 0,03% ke level harga US$ 48.014,5/koin atau Rp 684.206.625/koin, ethereum melemah 0,33% ke level US$ 3.584,83/koin (Rp 51.083.828/koin), cardano ambles 1,74% ke US$ 2,43/koin (Rp 34.628/koin).

Berikutnya binance coin terkoreksi 0,8% ke level US$ 425,07/koin (Rp 6.057.248/koin), ripple ambrol 1,77% ke US$ 1,1/koin (Rp 15.675/koin), solana tergelincir 3,29% ke US$ 151,1/koin (Rp 2.153.175/koin), dan dogecoin terdepresiasi 1,66% ke US$ 0,2414/koin (Rp 3.440/koin).

Kripto

Bitcoin masih bertahan di kisaran level US$ 48.000 pada pagi hari ini karena sinyal jenuh beli (overbought) jangka pendek mulai muncul.

Pembeli tampaknya sedang mengambil nafas ketika bitcoin sedang mencoba menembus level resistance US$ 50.000 dan beberapa analis memperkirakan bitcoin akan berkonsolidasi sebelum masa jatuh tempo option berikutnya pada 24 September mendatang.

Data Blockchain menunjukkan adanya volume transaksi besar dalam bitcoin yang menunjukkan pembeli dapat tetap aktif pada level support yang lebih rendah.

Beberapa analis juga memantau perkembangan inflasi Amerika Serikat (AS), yang dapat mendorong bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memperketat kebijakan moneternya yang dapat menyebabkan mundurnya aset berisiko, termasuk cryptocurrency.

Pada Selasa (14/9/2021) lalu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan inflasi inti pada Agustus 2021 adalah 0,1% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Melambat dibandingkan Juli 2021 yang sebesar 0,3% dan menjadi yang terendah dalam enam bulan terakhir.

Dibandingkan dengan Agustus 2020 (year-on-year/yoy), laju inflasi inti adalah 4%. Melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 4,3% dan menjadi yang terendah dalam tiga bulan terakhir.

Hal ini dapat mengkonfirmasi pandangan pasar terhadap The Fed bahwa kenaikan harga bersifat sementara, dibandingkan dengan basis rendah dari tahun lalu ketika pandemi virus corona (Covid-19) dimulai.

Beberapa investor melihat bitcoin belum dapat dijadikan sebagai aset lindung nilai (hedging) terhadap kenaikan inflasi karena pasokannya yang terbatas.

Di lain sisi, reli di kripto alternatif terus membayangi bitcoin, seperti yang terjadi pada koin digital Avalanche (AVAX) yang meroket hingga 20% dalam 24 jam terakhir.

Avalanche Foundation mengumumkan pada Kamis kemarin bahwa pihaknya akan menggelontorkan sebanyak US$ 230 juta untuk memulai likuiditas di ekosistem jaringan desentralized finance (DeFi) yang sedang berkembang dan dapat berkontribusi pada reli harga kripto tersebut.

"Ini adalah musim bagi altcoin," kata Martha Reyes-Hulme, kepala penelitian di platform trading kripto, BeQuant, dikutip dari CoinDesk.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading