Sentimen Negatif Mendominasi, Harga Mayoritas SBN Menguat

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
16 September 2021 18:56
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) ditutup menguat pada perdagangan Kamis (16/9/2021), di tengah melemahnya pasar saham Asia dan dalam negeri akibat sentimen negatif dari China.

Mayoritas investor kembali mengoleksi SBN pada hari ini, ditandai dengan menguatnya imbal hasil (yield) di hampir seluruh tenor SBN. Hanya SBN bertenor 25 tahun yang cenderung dilepas oleh investor dan mengalami penguatan yield.

Melansir data dari Refinitiv, Yield SBN bertenor 25 tahun naik sebesar 1,5 basis poin (bp) ke level 7,19% pada perdagangan hari ini. Sementara itu, yield SBN bertenor 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi negara berbalik melemah 1,3 bp ke level 6,16% pada hari ini.


Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Pada hari ini, bursa saham Asia ditutup berjatuhan, di mana pasar saham Hong Kong dan China memimpin pelemahan bursa Asia. Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sebelumnya sempat menguat di sesi I hari ini, terpaksa berakhir cenderung stagnan di level yang sama dengan penutupan kemarin.

Hal ini terjadi karena sentimen negatif yang hadir di pasar keuangan Asia cenderung lebih mendominasi, di mana salah satunya yakni data penjualan ritel China periode Agustus yang kembali melambat.

Pada Agustus 2021, produksi industri China tumbuh 5,3% secara tahunan (year-on-year/yoy). Melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 6,4% sekaligus menjadi yang terlemah sejak Juli 2020. Pengeluaran konsumen naik 2,5% (yoy). Jauh di bawah konsensus pasar yang dihimpun Reuters yaitu 7% (yoy) atau terendah sejak Agustus 2020.

"Laju perekonomian melambat pada Agustus, konsumsi terpukul dan investasi masih lemah. Sementara itu, virus corna kembali menyebar di Fujian dan sejumlah wilayah lain sehingga menjadi risiko bagi pertumbuhan ekonomi kuartal III dan IV," kata Louis Kuijs, Head of Asia Ecnomics di Oxford Economics, seperti diberitakan Reuters.

Di lain sisi, kabar dari perusahaan raksasa properti China, China Evergrande Group yang terancam gagal bayar (default) utang perusahaannya juga menjadi sentimen negatif bagi pasar saham Asia, utamanya di Hong Kong dan China.

Hal ini juga kemungkinan mempengaruhi perusahaan properti China lainnya dan juga berdampak pada perekonomian China, apalagi sektor properti Negeri Tirai Bambu menyumbang sebesar 29% pertumbuhan ekonomi China.

Karena itulah pasar cenderung khawatir jika permasalahan tersebut tak kunjung selesai dan membuat China mengalami krisis keuangan dan tentunya ekonomi, apalagi saat ini China masih berusaha untuk memulihkan perekonomiannya akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Sementara itu dari Amerika Serikat (AS), yield surat utang pemerintah (Treasury) acuan bertenor 10 tahun terpantau menguat tipis pada perdagangan pagi hari ini waktu setempat, jelang rilis data klaim pengangguran mingguan pada pekan yang berakhir 11 September 2021.

Dilansir data dari CNBC International, yield Treasury benchmark bertenor 10 tahun terpantau menguat tipis 0,5 bp ke level 1,309% pada pukul 07:03 pagi waktu AS, dari sebelumnya pada penutupan Rabu (15/9/2021) kemarin di level 1,304%.

Departemen Ketenagakerjaan AS akan merilis data klaim pengangguran mingguan pada pekan yang berakhir 11 September pukul 08:30 pagi waktu AS atau pukul 19:30 WIB. Ekonom dalam polling Dow Jones memperkirakan setidaknya ada 320.000 orang Amerika yang mengajukan asuransi pengangguran pada pekan lalu.

Data ini juga akan tetap dipantau oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk membantu memutuskan kapan akan dimulainya program pengurangan pembelian obligasi atau tapering.

Inflasi adalah indikator ekonomi lain yang digunakan The Fed untuk menentukan perubahan kebijakan moneternya. Namun, data inflasi periode Agustus 2021 yang dirilis pada Selasa (14/9/2021) lalu menunjukkan pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yakni Juli 2021.

Data inflasi yang juga lebih rendah dari perkiraan pasar menyebabkan berkurangnya ekspektasi pasar terhadap sikap The Fed yang akan melakukan tapering dalam waktu dekat.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading