Neraca Dagang RI Surplus Besar, Yield SBN Kembali Menguat

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
15 September 2021 19:00
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu (15/9/2021), di tengah kabar positif neraca perdagangan RI yang tumbuh lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Mayoritas investor kembali melepas SBN pada hari ini, ditandai dengan menguatnya imbal hasil (yield) di hampir seluruh tenor SBN. Hanya SBN bertenor 3 tahun yang ramai dikoleksi oleh investor dan mengalami pelemahan yield.

Melansir data dari Refinitiv, Yield SBN bertenor 3 tahun turun sebesar 1 basis poin (bp) ke level 3,933%. Sedangkan yield SBN berjatuh tempo 25 tahun cenderung stagnan di level 7,175%. Sementara itu, yield SBN bertenor 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi negara kembali menguat 0,2 bp ke level 6,173% pada hari ini.


Yield berlawanan arah dari harga, sehingga naiknya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor Indonesia pada Agustus 2021 tumbuh 64,1% secara tahunan (year-on-year/YoY), jauh lebih tinggi dari poling CNBC Indonesia yang meramal angka 36,5% (YoY). Impor tumbuh 55,26% (YoY), juga jauh lebih tinggi dari perkiraan konsensus yang memprediksi angka 44,29% (YoY).

Neraca dagang Agustus 2021 tercatat mencapai US$ 4,74 miliar tertinggi sejak tahun 2006 dan dua kali lebih tinggi dari ramalan konsensus di US$ 2,32 miliar. Tumbuhnya neraca perdagangan tersebut membuat investor di pasar obligasi pemerintah cenderung kembali melepas kepemilikannya hari ini untuk diputar ke aset yang lebih berisiko.

Sementara itu dari Amerika Serikat (AS), yield surat utang pemerintah (Treasury) acuan bertenor 10 tahun terpantau kembali melemah pada perdagangan pagi hari waktu setempat, merespons data inflasi dari sisi indeks harga konsumen (IHK) yang lebih rendah dari perkiraan pasar.

Dilansir data dari CNBC International, yield Treasury benchmark bertenor 10 tahun terpantau melemah tipis sebesar 0,4 bp ke level 1,275% pada pukul 07:01 pagi waktu AS, dari sebelumnya pada penutupan Selasa (14/9/2021) kemarin di level 1,279%.

Kementerian Ketenagakerjaan AS melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) inti pada Agustus 2021 adalah 0,1% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm), melambat dibandingkan Juli 2021 yang sebesar 0,3% dan menjadi yang terendah dalam 6 bulan terakhir.

Dibandingkan dengan Agustus 2020 (year-on-year/yoy), laju IHK inti adalah 4%. Melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 4,3% dan menjadi yang terendah dalam tiga bulan terakhir.

Perlambatan laju inflasi memberi harapan bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) tidak akan terlalu agresif dalam waktu dekat. Akan tetapi, pelaku pasar kemudian menyadari bahwa perlambatan laju inflasi juga berarti pemulihan ekonomi cenderung kembali tertahan.

Hal inilah yang kemudian memunculkan aksi jual terhadap aset-aset berisiko seperti saham dan kripto serta investor cenderung kembali memburu aset aman (safe haven) seperti obligasi pemerintah AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading