Terungkap! Utang Garuda ke Anak BUMN Ini Rp 600 M Lebih

Market - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
02 September 2021 18:15
Garuda Indonesia Luncurkan Livery Pesawat

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mengalami cobaan bertubi-tubi di masa pandemi. Setelah mencatat kerugian sebesar US$ 898,65 juta atau setara Rp 12,85 triliun (kurs Rp 14.300/US$) pada semester I-2021, Garuda juga terlilit utang.

Garuda Indonesia disebut tercatat memiliki utang sekitar Rp 600 miliar lebih ke salah satu anak perusahaannya yakni PT Gapura Angkasa.

Gapura adalah perusahaan patungan yang didirikan pada 26 Januari 1998 oleh tiga BUMN yaitu Garuda Indonesia, PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero), yang bergerak di bidang usaha jasa ground handling dan kegiatan usaha lainnya yang menunjang usaha penerbangan di bandar udara.


"Saat ini outstanding utang Garuda ke PT Gapura lebih dari Rp 600 miliar, jadi sudah produksi turun, ditambah banyak utang ngga ada cash masuk, ini memberatkan," kata Wakil Direktur Utama Angkasa Pura II Edwin Hidayat Abdullah dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Kamis (2/9/21).

"Gapura dulu punya Garuda, sekarang punya AP II dan AP I, itu makin memberatkan bandara AP II dan AP I," jelasnya.

Edwin berharap Gapura harus diselamatkan seiring recovery yang terus berjalan. Alasannya tanpa penyelamatan dan penataan bisnis Gapura, jalan pemulihan bisnis aviasi akan timpang.

"Kita harap sekitar Rp 700 miliar dialokasikan ke Gapura untuk penguatan modal dan peremajaan alat-alat dan tata portolfolio usaha Gapura," ujar Edwin yang juga Project Management Office Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung ini.

Situs Gapura mencatat, pada awalnya maskapai penerbangan Garuda melaksanakan ground handling sendiri, namun mengingat kebutuhan layanan profesional dan tuntutan hasil kerja yang optimal tanpa mengabaikan unsur keamanan, keselamatan, kehandalan dan ketepatan waktu, maka Garuda menyerahkan kegiatan ground handling ke pihak lain agar dapat berkonsentrasi pada operasional pesawat udara.

Dari sinilah asal mula pendirian Gapura Angkasa. Maka per 21 Nopember 2019 struktur kepemilikan saham Gapura Angkasa adalah Angkasa Pura II (46,62%), Garuda Indonesia (45,62%), dan Angkasa Pura I (7,76%).

Laporan keuangan GIAA per Juni 2021 mencatat utang ke Gapura sebesar US$ 35,37 juta atau setara dengan Rp 506 miliar, naik dari Desember 2020 US$ 34,59 juta.

Terkait dengan utang Garuda, sebelumnya Kementerian BUMN sudah memaparkan bahwa alasan menumpuknya utang Garuda hingga mencapai Rp 70 triliun disebabkan karena biaya sewa (leasing) pesawat yang di luar batas wajar.

Wakil Menteri BUMN Kartiko Wirjoatmodjo mengatakan menyebut beberapa tipe pesawat yang menyebabkan kenaikan biaya-biaya tersebut.

"Memang permasalahan utama Garuda di masa lalu, karena leasing-leasing [sewa pesawat] melebihi cost yang wajar dan jenis pesawatnya terlalu banyak, contoh ada Boeing 737, Boeing 777, Airbus A320, A330, ATR, dan Bombardier, ini efisiensinya bermasalah, ditambah rute yang banyak diterbangi itu tidak profitable," kata Kartika dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi IV DPR RI, Kamis (3/6/2021).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bos Garuda: Gaji Direksi-Komisaris di Mei Dibayar Juni Ini


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading