Duh! Ada Kabar Buruk, Bursa Asia Dilanda Aksi Ambil Untung

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
31 August 2021 08:44
Passersby are reflected on an electronic board showing the exchange rates between the Japanese yen and the U.S. dollar, the yen against the euro, the yen against the Australian dollar, Dow Jones Industrial Average and other market indices outside a brokerage in Tokyo, Japan, August 6, 2019.   REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa Asia dibuka melemah pada perdagangan Selasa (31/8/2021), di mana investor sedang memantau saham video game China yang mengikuti aturan baru yakni membatasi jumlah jam yang dapat dihabiskan anak-anak untuk bermain game tersebut.

Indeks Nikkei Jepang dibuka melemah 0,63%, Hang Seng Hong Kong turun 0,18%, Shanghai Composite China terkoreksi 0,33%, Straits Times Singapura merosot 0,69%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,2%

Dari data ekonomi, China pada pagi hari ini telah merilis data aktivitas manufakturnya pada periode Agustus 2021.


NBS melaporkan data aktivitas manufaktur yang tergambarkan pada indeks manajer pembelian (Purchasing Manager's Index/PMI) pada Agustus 2021 turun menjadi 50,1, dari sebelumnya pada Juli lalu sebesar 50,4. Namun, PMI manufaktur China masih berada di zona ekspansif.

Hal ini dikarenakan melonjaknya kasus virus corona (Covid-19) dalam beberapa pekan terakhir di beberapa wilayah di negara tersebut dan adanya bencana alam, sehingga pemulihan ekonomi negara itu masih tidak stabil dan tidak merata.

Di lain sisi, investor akan memantau saham teknologi, Tencent dan Netease yang terdaftar di bursa saham Hong Kong, setelah aturan baru yang menunjukkan rencana untuk membatasi waktu yang dihabiskan mereka yang berusia di bawah 18 tahun untuk bermain video game menjadi hanya tiga jam seminggu.

Pasar saham Asia cenderung berbanding terbalik dengan pergerakan bursa saham AS, Wall street yang secara mayoritas ditutup di zona hijau pada perdagangan Senin (30/8/2021).

Beralih ke Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street secara mayoritas ditutup menguat pada perdagangan dini hari tadi, setelah ketua bank sentral AS memberikan konfirmasi bahwa kebijakan pengurangan pembelian obligasi (tapering) bakal dimulai tahun ini, tetapi tidak akan diikuti dengan kenaikan suku bunga acuan.

Indeks S&P 500 ditutup menguat 0,43% ke level 4.528,79 dan Nasdaq Composite melesat 0,9% ke posisi 15.265,89. Namun untuk Dow Jones berakhir melemah 0,16% ke level 35.399,84.

Ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell mengatakan bahwa inflasi saat ini secara mantap berada di kisaran target bank sentral tersebut, yakni sebesar 2%, karena inflasi saat ini hanya bersifat transisi dan akan turun ke target tersebut.

Salah satu pemicu tingginya inflasi di AS selain adanya efek basis rendah juga secara struktural inflasi ditopang oleh permintaan durable goods yang menguat selama pandemi Covid-19.

Alasan lain mengapa tapering menjadi urgensi di akhir tahun ini adalah pasar tenaga kerja AS yang rebound dengan cepat.

Saat pembatasan wilayah (lockdown) diberlakukan April tahun lalu, tingkat pengangguran di Negeri Paman Sam melonjak melebihi 14%. Kini tingkat pengangguran sudah turun ke bawah 6%.

Bahkan untuk bulan Agustus angka sementaranya berdasarkan poling terhadap ekonom tingkat pengangguran berada di 5,2% saja.

Memang masih jauh dari level all time low saat masa Presiden Trump di 3,5%. Namun kecepatan serapan tenaga kerja menjadi indikator yang positif bahwa ekonomi Uncle Sam memang berada di fase pemulihan dengan progres yang substansial sebagaimana dikatakan oleh para pebankir sentral negeri adidaya itu.

Melihat realita tersebut, beberapa pejabat The Fed mengatakan bahwa tapering berpeluang diumumkan pada rapat selanjutnya pada 21-22 September.

Strategi komunikasi The Fed yang lebih jelas dibandingkan tahun 2013 silam menjadi salah satu alasan mengapa pasar tidak terlalu reaktif.

Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi acuan AS tenor 10 tahun juga stay di kisaran 1,3%-1,4% meski sempat melesat ke 1,7% pada Februari tahun ini.

Hanya saja risiko yang saat ini masih membayangi perekonomian dan pasar adalah ancaman penyebaran varian Delta dari virus pemicu Covid-19 yang diyakini 70% lebih menular.

Di sisi lain valuasi aset di negara maju seperti AS yang sudah tinggi membuka peluang untuk koreksi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading