Yield US Treasury Kembali Flat, Harga Mayoritas SBN Melemah

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
27 August 2021 18:40
US Treasury, Bond, Obligasi (Ilustrasi Obligasi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) berbalik melemah pada perdagangan Jumat (27/8/2021), di tengah kembali stagnannya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) jelang puncak acara simposium Jackson Hole pada malam nanti waktu Indonesia.

Mayoritas investor mulai melepas kepemilikannya di SBN pada hari ini, ditandai juga dengan menguatnya imbal hasil (yield) di hampir seluruh SBN acuan. Hanya SBN bertenor 10, 25, dan 30 tahun yang masih diburu oleh investor, ditandai dengan pelemahan yield-nya.

Yield SBN bertenor 25 tahun melemah 1,2 basis poin (bp) ke level 7,213%, sedangkan SBN berjatuh tempo 30 tahun turun 0,7 bp ke level 6,839%. Sementara itu, yield SBN acuan pemerintah bertenor 10 tahun yang merupakan yield SBN acuan negara kembali menurun sebesar 0,9 bp ke level 6,166% pada hari ini.


Yield berlawanan arah dari harga, sehingga naiknya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

SBN

Menguatnya yield mayoritas SBN pada perdagangan akhir pekan ini terjadi di tengah masih stagnannya yield surat utang pemerintah AS (Treasury) pada perdagangan Jumat pagi waktu setempat. Dilansir data dari CNBC International, yield Treasury acuan bertenor 10 tahun kembali cenderung stagnan di level 1,344% pada pukul 07:05 pagi waktu AS.

Puncak dari simposium Jackson Hole akan berlangsung malam hari ini waktu Indonesia. Acara ini menghadirkan para bankir sentral dari seluruh dunia untuk membahas kebijakan moneter masing-masing negara.

Ketua The Fed Jerome Powell akan menyampaikan pidato yang akan disiarkan langsung pada Jumat (27/8/2021) pukul 10.00 pagi waktu AS atau pukul 21:00 WIB. Pidato berjudul "The Economic Outlook" itu diperkirakan menyinggung nasib program pembelian obligasi bulanan senilai US$ 120 miliar yang selama ini dijalankan The Fed.

Investor akan mendengarkan dengan cermat pidato Powell tersebut dan akan memantau kapan The Fed mungkin akan mulai meluncurkan program tapering tersebut. Namun sejauh ini, mereka memperkirakan bank sentral terkuat dunia tersebut tidak akan terburu-buru.

Jelang acara puncaknya pada malam ini, beberapa pejabat The Fed lagi-lagi membuat pelaku pasar terpecah menjadi dua sisi. Presiden The Fed wilayah Dallas, Robert Kaplan mengatakan akan mempertimbangkan kembali tapering dalam waktu dekat jika penyebaran virus corona (Covid-19) mengganggu pemulihan ekonomi AS.

"Kami pikir investor akan menunggu untuk mendengar tapering dari Jerome Powell pada hari Jumat, sebelum kembali masuk ke aset-aset berisiko lagi, dan menjual dolar AS," tulis ahli strategi dari ING dalam catatan kepada nasabahnya yang dikutip CNBC International, Selasa (24/8/2021).

Kaplan merupakan salah satu anggota The Fed yang hawkish atau pro pengetatan moneter. Kini pelaku pasar seakan terbelah menjadi dua kubu, ada yang melihat tapering masih bisa dilakukan di tahun ini, namun sebagian lainnya melihat baru akan dilakukan tahun depan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Investor Khawatir Covid-19 RI Melonjak, Harga SBN Menguat


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading