Jelang Simposium Tahunan The Fed, SBN Diburu Pemodal

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
25 August 2021 18:27
US Treasury, Bond, Obligasi (Ilustrasi Obligasi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kembali ditutup menguat pada perdagangan Rabu (25/8/2021), di tengah menguatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) jelang Simposium Jackson Hole yang akan dimulai pada Kamis hingga Jumat pekan ini.

Mayoritas investor kembali memburu SBN pada hari ini, ditandai juga dengan melemahnya imbal hasil (yield) di hampir seluruh SBN acuan. Hanya SBN berjangka panjang dengan tenor 30 tahun yang cenderung dilepas oleh investor, ditandai dengan penguatan yield-nya.

Yield SBN berjatuh tempo 30 tahun naik sebesar 0,3 basis poin ke level 7,239% pada perdagangan hari ini. Sementara itu, yield SBN acuan pemerintah bertenor 10 tahun yang merupakan yield SBN acuan negara melemah signifikan sebesar 11,6 basis poin (bp) ke 6,244% pada hari ini.


Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

SBN

Investor masih menanggapi kebijakan pemerintah yang akan kembali memberlakukan burden sharing atau skema menanggung bersama antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI).

Sebelumnya pada Selasa (24/8/2021) pagi kemarin, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan akan tetap menjaga kredibilitas di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Salah satunya memastikan pembiayaan untuk kebutuhan belanja bisa terpenuhi.

"Kami akan tetap jaga kredibilitas dari kita. Kami akan tetap menjaga market dalam hal ini SBN," ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers, Selasa (24/8/2021) pagi. Salah satu yang dilakukan Sri Mulyani adalah dengan melakukan burden sharing atau menanggung bersama dengan Bank Indonesia (BI) lewat Surat Keputusan Bersama (SKB) III.

BI akan membeli surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 439 triliun di pasar perdana (primary market) dan private placement"SKB III ini adopsi prinsip-prinsip kita menjaga antara BI dan pemerintah, yaitu kami masing-masing jaga fiskal dan moneter tetap kredibel jaga perekonomian. Dari sisi APBN, fiskal space dan sustainable dalam jangka menengah jadi penting," jelasnya.

Pelemahan imbal hasil SBN pada hari ini terjadi di tengah sikap investor di pasar saham Asia yang cenderung wait and see jelang acara simposium tahunan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), yakni Simposium Jackson Hole yang akan dimulai pada Kamis hingga Jumat pekan ini.

Sikap wait and see investor global juga membuat yield surat utang pemerintah acuan AS (Treasury) kembali menguat pada pra-pembukaan (pre-opening) perdagangan pagi hari ini waktu AS.

Dilansir data dari CNBC International, yield Treasury acuan bertenor 10 tahun kembali menguat sebesar 1,4 bp ke level 1,304% pada pukul 07:01 pagi waktu AS, dari sebelumnya pada penutupan Selasa (24/8/2021) kemarin di level 1,290%.

Simposium Jackson Hole akan menghadirkan para bankir sentral dari seluruh dunia untuk membahas kebijakan moneter masing-masing negara. Ketua The Fed, Jerome Powell akan menyampaikan pidato yang akan disiarkan langsung pada Jumat (27/8/2021) pukul 10.00 pagi waktu AS atau pukul 21:00 WIB.

Pidato berjudul "The Economic Outlook" itu diperkirakan menyinggung nasib program pembelian obligasi bulanan senilai US$ 120 miliar yang selama ini dijalankan oleh The Fed.

Investor akan mendengarkan dengan cermat pidato Powell tersebut dan akan memantau kapan The Fed mungkin akan mulai meluncurkan program tapering tersebut. Namun sejauh ini, mereka memperkirakan bank sentral terkuat dunia tersebut tidak akan terburu-buru.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Investor Khawatir Covid-19 RI Melonjak, Harga SBN Menguat


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading