Analisis

Siap-siap 'Perang' Bank Digital, Cek Kinerja Saham-sahamnya!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
20 August 2021 08:29
Sedangkan dari sisi volume Bank BRI mampu mencatatkan 4.617 triliun Rupiah meningkat 57% dibandingkan periode yang sama ditahun 2020, bahkan jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi, terjadi peningkatan sebesar 68% (YoY Juni 2019 – Juni 2021).

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya menerbitkan peraturan terbaru yang paling ditunggu-tunggu soal bank umum pada Kamis kemarin (19/8/2021). Di dalam beleid tersebut, tercakup pula aturan mengenai bank digital, yang akhir-akhir ini menyita perhatian banyak kalangan.

Sebelumnya, setidaknya sejak awal tahun ini, para investor berspekulasi bahwa sejumlah saham bank mini atau--jika menggunakan istilah lama--bank BUKU II (bank dengan modal inti Rp 2 triliun-Rp 5 triliun) akan diakuisisi oleh investor strategis dan ditransformasikan menjadi bank digital.

Sejurus dengan itu, harga saham-saham bank bermodal 'cekak' itu turut melambung tinggi hingga beberapa kali Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi (penghentian perdagangan sementara) terhadap saham-saham tersebut.


Namun, setidaknya dalam seminggu terakhir, saham-saham bank BUKU II cenderung 'diobral' investor. Bahkan, dalam dua hari belakangan banyak saham bank mini yang anjlok menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 7%.

Lantas, bagaimana sebenarnya kinerja saham-saham bank yang sedang dalam proses atau telah memproklamirkan diri sebagai bank digital sepanjang Agustus?

Dalam sebuah webinar beberapa waktu lalu, Deputi Direktur Basel dan Perbankan Internasional OJK Tony, menyebutkan daftar bank yang dalam proses izin untuk jadi bank digital dan mencoba untuk menobatkan diri jadi bank digital. Beberapa di antara bank tersebut termasuk emiten bank mini di bursa.

Karena itu, di bawah ini Tim Riset CNBC Indonesia hanya akan membahas 8 bank, dari total 14 bank yang mencoba masuk ke dalam ekosistem bank digital.


Dari 8 saham di atas, 4 saham masih berhasil melonjak selama Agustus, di tengah kecenderungan aksi jual oleh para investor belakangan ini.

Saham BBYB menjadi yang paling melesat, yakni 58,33%, didorong kabar perusahaan financial technology (fintech) PT Akulaku Silvrr Indonesia alias Akulaku resmi menjadi pemegang saham pengendali perusahaan per akhir Juli lalu.

Sebelumnya, Akulaku resmi menjadi pemegang saham pengendali BBYB, setelah mendapat restu Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal tersebut terungkap dalam rancangan pengambilalihan Bank Neo Commerce oleh Akulaku yang dipublikasikan pada Rabu (28/7) di situs resmi BBYB.

Pengumuman ringkasan rancangan pengambilalihan ini sehubungan dengan kepemilikan Akulaku atas 1.664.157.909 saham BBYB atau sekitar 24,98% BBYB sebagai akibat dari pelaksanaan penawaran umum terbatas III (PUT III) atau rights issue.

Di posisi kedua ada saham bank yang dikuasai Qatar National Bank (QNB) BKSW yang tumbuh 10,78% selama Agustus. Pada awal Agustus, tepatnya 3 dan 5 Agustus, saham ini sempat menyentuh batas auto rejection atas (ARA) 25%, sebelum akhirnya mengalami tren pelemahan selama 7 hari beruntun atau sejak 9 Agustus lalu.

Dalam surat mengenai penjelasan terkait dengan volatilitas transaksi efek (saham) perusahaan kepada pihak BEI, pihak BKSW menjelaskan, tidak memiliki informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan atau keputusan investasi pemodal.

Selain itu, menurut perusahaan, dalam tiga bulan mendatang tidak terdapat rencana pemegang saham utama terkait dengan kepemilikan sahamnya di perseroan.

Berbeda dengan saham BBYB dan QNB di atas, saham ARTO dan AGRO, misalnya, malah anjlok selama Agustus akibat lebih sering dilego investor, terutama dalam sepekan terakhir. Saham ARTO anjlok 10,86%, sementara AGRO ambles 20,00%.

NEXT: 'Perang' Bank Digital Bakal Dimulai

Simak Perincian POJK soal Bank Digital!
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading