Penasaran Kenapa Asing Obral Saham Bukalapak? Ini Kata Analis

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
13 August 2021 12:05
Bukalapak (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten perusahaan rintisan lokapasar, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) kembali dilanda aksi jual pelaku pasar asing pada perdagangan menjelang akhir pekan ini, Jumat (13/8/2021).

Sampai dengan pukul 10.34 WIB, tercatat, pelaku pasar asing melakukan penjualan bersih senilai Rp 43,88 miliar di seluruh pasar. Penjualan saham oleh investor asing tersebut menyebabkan saham BUKA sempat terkoreksi di awal perdagangan ke level Rp 910 per saham.

Namun demikian, tidak lama saham Bukalapak kembali menanjak ke posisi Rp 1.010 per saham dengan nilai transaksi Rp 1,90 triliun dengan volume 1,96 miliar saham.


Sebelumnya, pada Kamis (10/8) kemarin, saham BUKA ditutup anjlok hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) sebesar 6,76% ke Rp 965/saham, melanjutkan kinerja negatif pada Selasa (10/8) lalu yang juga menyentuh ARB 6,76%.

Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico Demus menuturkan, penurunan yang terjadi pada saham Bukapalak bukan disebabkan aksi panic selling yang dilakukan investor asing, melainkan murni karena mekanisme pasar.

"Kalau kita lihat, panic selling enggak. Mengapa demikian, sebetulnya investor asing justru kalau masuk ke saham kita melihat potensi valuasi di masa yang akan datang," kaya Nico, saat dihubungi CNBC Indonesia, Jumat (13/8/2021).

Nico menambahkan, koreksi yang terjadi pada saham Bukalapak masih terbilang wajar. Ia optimistis, saham BUKA masih berpeluang menguat ke level batas atas di Rp 1.500 per saham.

"Ini invesasi, kita beli berarti kita yakin dengan fundamental dan potensi valuasi di masa yang akan datang, saham IPO potensi mengalami penurunan, selama dalam batas wajar, masih bisa menerima rentang koreksinya," katanya.

Selain itu, secara prospek, ekosistem digital Bukalapak masih cukup menjanjikan ke depan seiring dengan terus berkembangnya bisnis e-commerce di tanah air dan diharapkan bisa memberikan kontribusi yang signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Selain itu, baru-baru ini, katalis positif juga datang dari dana abadi negara atau Sovereign Wealth Fund asal Singapura GIC Private Limited melakukan pembelian saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) sebanyak 1.600.797.400 atau setara dengan 1,553% modal disetor dan ditempatkan Bukalapak senilai Rp 1,36 triliun di harga Rp 850/saham.

"Dengan adanya asing masuk lagi, ini yang mesti kita perhatikan, BUKA punya potensi. Kami melihat secara jangka panjang, saham di sektor teknologi akan mengalami kenaikan," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Segera Go Public, Bukalapak Bidik Rp 21,9 Triliun Lewat IPO


(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading