Ada Ancaman Lebih Ngeri dari Covid, Negara Ini Ikut Khawatir

Market - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
10 August 2021 11:45
Warga di Prancis sudah boleh lepas masker. (AP/Michel Euler)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai perubahan iklim telah membuat beberapa negara menyatakan kekhawatirannya, salah satunya adalah Prancis.

Mengutip AFP, Senin (09/08/2021), Negeri Baguette itu menganggap bahwa perubahan iklim ini diakibatkan oleh penggunaan energi fosil, termasuk batu bara dan migas.

"Tantangannya sangat besar karena melibatkan kemunculan dalam satu dekade dari peradaban yang telah didasarkan pada bahan bakar fosil selama beberapa abad," kata Menteri Lingkungan Prancis Barbara Pompili dalam sebuah pernyataan.


Lebih lanjut, Prancis menggambarkan laporan PBB itu sebagai hal yang sangat mengerikan. Untuk itu, mereka menyerukan agar semua negara memfokuskan diri pada energi terbarukan, terutama yang terikat dalam kesepakatan Paris.

"Laporan itu dengan tepat menekankan, sekali lagi, urgensi nyata untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk sepenuhnya mengimplementasikan kesepakatan Paris (tentang perubahan iklim), yang merupakan kompas bagi kita semua," ujar Menteri Luar Negeri Jean-Yves Le Drian.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres bahkan menyebutnya makin nyata seraya menyebut "kode merah".

Beberapa perubahan dunia yang kini mulai terjadi dianggap sulit dibenahi untuk berabad-abad mendatang. Membatasi pemanasan global hingga 1,5 hingga 2 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri berat, jika tidak ada tindakan pengurangan skala emisi gas rumah kaca segera dalam dua dekade ini.

Yang jelas, ambang batas 1,5 derajat Celsius adalah target global penting. Jika melewati level ini, titik kritis menjadi lebih mungkin terjadi di mana pemanasan global akan terjadi lebih lanjut.

"Lonceng alarm memekakkan telinga dan buktinya tak terbantahkan," tegas Guterres, dikutip CNBC International.

"Emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan mencekik planet kita dan menempatkan miliaran orang dalam risiko langsung."

Perubahan iklim juga mengkhawatirkan Indonesia. Bulan Juni lalu Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati menyebut bahwa perubahan iklim sendiri hampir dapat menyebabkan sebuah bencana yang sama parahnya bila dibandingkan dengan pandemi Covid-19 yang dihadapi dunia saat ini.

"Climate change adalah global disaster yang magnitude-nya diperkirakan akan sama seperti pandemi Covid-19," ujarnya dalam ESG Capital Market Summit bulan lalu.

Indonesia sendiri diperkirakan membutuhkan dana tak kurang dari Rp 3.700 triliun untuk mengatasi perubahan iklim dan efek buruknya.

Sri Mulyani mengungkapkan untuk menurunkan karbon dioksida (CO2) dibutuhkan dana sebesar US$479 miliar. Karbon dioksida dihasilkan dari proses pembakaran mulai dari penggunaan energi fosil hingga kebakaran hutan.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading