Energi Fosil Belum Tergantikan hingga 30 Tahun Lagi

Market - Rahajeng KH, CNBC Indonesia
09 August 2021 13:20
Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tingginya permintaan energi terbarukan dinilai tidak menyurutkan permintaan batu bara selama beberapa tahun ke depan. Apalagi dengan pulihnya aktivitas industri di berbagai negara di masa pandemi Covid-19 membuat permintaan batu bara naik.

Direktur & Sekretaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava mengatakan meski permintaan terhadap energi terbarukan meningkat namun ada keterbatasan dalam penyimpanannya. Hal ini juga dialami oleh negara-negara Eropa yang telah banyak mengandalkan energi terbarukan, sehingga batu bara masih dibutuhkan.

Ketika ada pemulihan pandemi negara-negara ini mengalami pola permintaan yang bervariasi terhadap energi yang tidak bisa dipenuhi semuanya oleh energi terbarukan. Dileep menambahkan untuk di Asia, peningkatan aktivitas industri membuat permintaan batu bara meningkat 3% dan akan bertahan selama jangka menengah.



"Meski ada energi terbarukan tidak dapat menggantikan sepenuhnya bahan bakar fosil sejauh sekitar 25-30 tahun, karena terlalu banyak variabel lain yang terlibat," ujar Dileep kepada CNBC Indonesia, Senin (9/8/2021).

Dia mengakui saat ini lembaga pendanaan pun telah sangat ketat mendanai proyek batu bara, sehingga suplai pun terbatas. Untuk bertahan, perusahaan berencana melakukan hilirisasi melalui gasifikasi. Dengan begitu batu bara tidak hanya menjadi bahan bakar melainkan bahan baku.

"Saya telah melihat perkembangan di Eropa, Jerman dan Prancis, juga Amerika Serikat, kami telah melihat pergerakan jangka menengah menuju energi terbarukan," kata dia.

Di Indonesia sendiri batu bara masih tetap akan dibutuhkan hingga 2030 dan beberapa tahun setalahnya. Dileep mengatakan penting bagi Indonesia untuk menurunkan impor bahan bakar fosil demi bahan bakar yang tersedia di dalam negeri seperti batu bara.

"Jadi kami terus berpikir selama 10 tahun ke depan ke arah hijau dan menawarkan hibrida dan melakukan hilirisasi gasifikasi, kami senang bahwa pemerintah memberikan dorongan dan insentif," ujar Dileep.

Sebelumnya, Dileep mengungkapkan tantangan produksi terbesar tahun ini adalah hujan lebat yang terus berlanjut. Namun perusahaan berupaya mempertahankan produksi yang hampir normal selama masa pandemi ini.

Selama musim panas ini permintaan batu bara sangat tinggi, namun dia mengakui tingginya curah hujan berdampak negatif pada pengiriman pasokan batu bara. Pasalnya curah hujan yang tinggi membuat terhambatnya transportasi darat dan keamanan di beberapa tambang bawah tanah.

"Selain itu, tidak ada kapasitas baru yang muncul karena keterbatasan dana," kata dia.

Sepanjang tahun ini, perusahaan memproyeksikan harga batu bara di kisaran US$ 53-56 per ton. Untuk anak usaha BUMI, yakni Kaltim Prima Coal, harga batu bara diperkirakan di level US$ 60-64 per ton, sementara Arutmin US$ 39-42 per ton.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Wow! BUMI Bayar Royalti Hampir Rp 9 T ke Negara


(rah/rah)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading