Rupiah Dekati Lagi Rp 14.400/US$ di Kurs JISDOR

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
06 August 2021 15:47
Dollar AS - Rupiah (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) bagi di pasar spot maupun di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Pelemahan di kurs tengah BI lebih besar ketimbang di pasar spot, sehingga mendekati lagi Rp 14.400/US$.

Melansir data Refinitiv, rupiah melemah 0,07% di pasar spot ke Rp 14.350/US$. Sementara itu kurs tengah BI atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) hari ini berada di Rp 14.369/US$ melemah 0,19% ketimbang posisi kemarin.

Meski demikian, sepanjang pekan ini rupiah mampu membukukan penguatan baik di pasar spot maupun kurs JISDOR. Di pasar spot, rupiah membukukan penguatan 0,76%, sementara di JISDOR 0,64%.


Aliran modal yang masuk ke dalam negeri menjadi penopang penguatan rupiah di pekan ini. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan sejak Kamis pekan lalu hingga Senin pekan ini di pasar obligasi aliran modal asing tercatat masuk sekitar Rp 2,62 triliun.

Hal tersebut terlihat dari kepemilikan asing yang naik menjadi Rp 966,7 triliun, dari posisi Rabu pekan lalu sebesar Rp 964,07 triliun.

Kemudian di pasar primer, penawaran yang masuk (incoming bids) dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) yang dilakukan pemerintah kemarin sebesar Rp 107,8 triliun, lebih tinggi dari lelang sebelumnya Rp 95,6 triliun, sekaligus menjadi rekor tertinggi kedua sepanjang sejarah penerbitan SUN.

Dari incoming bids tersebut, yang dimenangkan oleh pemerintah sebesar Rp 34 triliun, lebih tinggi dari target indikatif Rp 33 triliun.

Selain itu, tingkat partisipasi investor asing juga meningkat di lelang Selasa lalu, yakni sebesar 11,6% dari sebelumnya 7,6%. Tingginya minat terhadap obligasi Indonesia menjadi indikasi adanya aliran modal masuk ke dalam negeri, rupiah pun perkasa.

Sementara pada hari ini, Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa per akhir Juli sebesar US$ 137,3 miliar, naik dari bulan sebelumnya US$ 137,1 miliar atau sekitar US$ 200 juta.

"Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," sebut keterangan tertulis BI yang dirilis Jumat (6/8/2021).

Kenaikan tersebut membuat BI punya lebih banyak amunisi untuk menstabilkan rupiah ketika mengalami gejolak.

BI mengungkapkan salah satu pendukung kenaikan cadangan devisa adalah penerbitan global bond pemerintah.

"Peningkatan posisi cadangan devisa pada Juli 2021 antara lain dipengaruhi oleh penerbitan global bond Pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa. Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan ekonomi," tulis BI.

Pemerintah pada bulan Juli lalu sukses melakukan penjualan Surat Utang Negara (SUN) dalam dua mata uang, dolar AS dan euro dengan format SEC-Registered Shelf Take-Down. Bahkan, berdasarkan rilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, spread terhadap obligasi AS (Treasury) mencapai rekor terendah sepanjang sejarah dalam di seluruh SUN tenor dolar AS.

Pemerintah menerbitkan SUN berdenominasi dolar AS tenor 10 tahun, 30 dan 50 tahun, dengan total sebesar US$ 1,65 miliar. Sementara SUN berdenominasi euro yang diterbitkan sebesar 500 juta euro.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading