Abaikan Data Inflasi yang Landai, Wall Street Dibuka Melemah

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
30 July 2021 20:55
Traders work on the floor at the New York Stock Exchange (NYSE) at the end of the day's trading in Manhattan, New York, U.S., August 27, 2018. REUTERS/Andrew Kelly

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat (30/7/2021), setelah emiten e-commerce terbesar dunia Amazon menunjukkan kinerja yang kurang menggembirakan.

Indeks harga pengeluaran konsumsi perorangan (Personal Consumption Expenditures/PCE) menunjukkan angka yang lebih moderat ketimbang perkiraan pasar, yakni sebesar 3,5% sementara polling Dow Jones memperkirakan angka 3,6%. Indeks PCE adalah salah satu indikator inflasi yang menjadi acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 65 poin pada pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan 20 menit kemudian menjadi minus 19,6 poin (-0,06%) ke 35.064,97. Nasdaq turun 89,4 poin (-0,6%) ke 14.688,91 dan S&P 500 surut 13,8 poin (-0,31%) ke 4.405,31.


Saham Amazon menjadi pemberatnya, setelah drop 7,3% di pembukaan setelah perseroan gagal memenuhi ekspektasi pasar terkait kinerja keuangan per kuartal II-2021. Saham Pinterest terbanting 21% setelah pengguna bulanannya di kuartal II-2021 turun.

Sebaliknya, saham Procter & Gamble menguat 1,4% setelah raksasa konsumer ini mencetak kinerja yang lebih baik dari ekspektasi analis. Namun, perseroan mengingatkan ada ancaman beban produksi akibat kenaikan harga komoditas tahun depan.

Kemarin, indeks Dow Jones Industrial Average lompat 153,6 poin (+0,44%) ke 35.084,53. S&P 500 menguat 18,5 poin (+0,42%) ke 4.419,15. Nasdaq tumbuh 15,7 poin (+0,11%) ke 14.778,26.

Lonjakan terjadi setelah AS mencetak pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5% kuartal lalu. Pelaku pasar juga yakin bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mengindikasikan bahwa belum akan ada pengurangan pembelian surat berharga di pasar sekunder.

Sepanjang Juli, Nasdaq dan Dow Jones menguat masing-masing sebesar 1,89% dan 1,69% ditopang saham teknologi. Indeks S&P 500 yang juga berisi banyak saham siklikal, melompat lebih tinggi yakni sebesar 2,83%.

"Meningkatnya kecemasan seputar varian delta dan potensi dampaknya terhadap momentum pembukaan kembali [ekonomi] terlihat menjadi faktor kunci di balik pergerakan harga," tutur Brian Belski, Kepala Perencana Investasi BMO, dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading