Analisis Teknikal

The Fed Status Quo, Sudah Saatnya IHSG Menguat Lagi!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
29 July 2021 08:23
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekali lagi menunjukkan pergerakan yang volatil Rabu kemarin (28/7), meski dalam rentang yang lebih sempit ketimbang hari Selasa.

Di awal perdagangan IHSG sempat menguat ke 6.116,505 sebelum berbalik melemah ke 6.074,667. Bursa kebanggaan Tanah Air ini kemudian menutup perdagangan di Rp 6.088,523, melemah 0,14%.

Pelaku pasar menanti pengumuman kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed) Kamis (29/7/2021) dini hari waktu Indonesia. Sayangnya, The Fed masih status quo, alias tidak ada perubahan terkait pandangan mengenai tapering atau kenaikan suku bunga.


The Fed mengatakan masih perlu melihat kemajuan substansial lebih lanjut terkait inflasi dan pasar tenaga kerja sebelum mulai melakukan tapering. Meski demikian, The Fed menyatakan perekonomian AS semakin membaik dan penyebaran virus corona delta tidak akan memberikan dampak signifikan.

Sementara itu dari dalam negeri, sentimen negatif kembali datang dari penambahan kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) yang kembali mendekati 50.000 orang per hari.

Kemarin, jumlah kasus baru dilaporkan sebanyak 47.791 orang, naik dari hari sebelumnya 45.203 orang. Padahal di hari Senin penambahan kasus baru berada di bawah angka 30.000, menjadi yang terendah dalam 3 pekan terakhir.

Jika kasus Covid-19 masih terus tinggi, tentunya ada risko pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 yang lebih luas ditunda.

Secara teknikal, IHSG masih belum mampu melewati batas atas pola Ascending Triangle di kisaran 6.115, dan kembali melemah meski tidak besar pada perdagangan Rabu kemarin. Artinya belum ada perubahan level-level yang harus diperhatikan.

Pada Kamis (22/7/2021) IHSG sukses break out melawati rerata pergerakan 100 hari (Moving Average 100/MA 100). MA 100 merupakan tembok tebal atau resisten yang kuat.
Beberapa kali IHSG mencoba melewatinya tetapi selalu gagal. Ini untuk pertama kalinya IHSG sukses melewati MA 100 sejak 31 Maret lalu.

Di hari yang sama, IHSG juga sukses melewati batas atas pola Ascending Triangle di kisaran 6.115, meski masih weak break out, atau penutupan candle stick masih di dekat batas atas tersebut. Sehingga, IHSG kembali ke bawahnya dalam 3 hari terakhir.

idrGrafik: IHSG Harian
Foto: Refinitiv 

Yang paling menarik, penembusan MA 100 dan Ascending Triangle tersebut terjadi dalam satu hari dan lewat pola candle stick White Marubozu yang merupakan sinyal nilai suatu aset akan kembali menguat. Secara psikologis, White Marubozu menunjukkan aksi beli mendominasi pasar.

Suatu candle stick dikatakan sebagai White Marubozu ketika harga open sama dengan low dan harga close sama dengan high.

Dengan munculnya White Marubozu peluang penguatan IHSG masih terbuka meski masih tertahan di bawah batas atas pola Ascending Triangle 6.115 sejak pada Jumat pekan lalu.

Jika kembali menembus level tersebut, IHSG berpeluang menguat ke 6.140 yang kemarin sempat diuji dan berbalik turun. Jika mampu menembusnya dengan konsisten, IHSG berpeluang menuju 6.180.

Sementara selama tertahan di bawah 6.100, IHSG berisiko turun kisaran MA 100 di 6.060 hingga 6.050. Penembusan di bawah level tersebut akan membawa IHSG turun ke 6.030.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading