IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi ASEAN, Harga SBN Kembali Menguat

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
28 July 2021 18:52
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) berbalik menguat pada perdagangan Rabu (28/7/2021), setelah adanya kabar kurang menggembirakan dari Dana Moneter Internasional yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.

Mayoritas investor kembali memburu SBN pada hari ini, ditandai dengan pelemahan imbal hasil (yield) di hampir seluruh SBN. Hanya SBN bertenor 1, 25, dan 30 tahun yang yield-nya mengalami penguatan dan cenderung dilepas oleh investor.

Yield SBN bertenor 1 tahun berbalik naik 0,9 basis poin (bp) ke level 3,257%, sedangkan yield SBN berjatuh tempo 25 tahun naik sebesar 1 bp ke level 7,33%, dan yield SBN dengan tenor 30 tahun juga naik 0,4 bp ke 6,898%. Sementara, yield SBN bertenor 10 tahun yang merupakan yield acuan pemerintah berbalik turun sebesar 0,8 bp ke level 6,309%.


Yield berlawanan arah dari harga, sehingga pelemahan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dalam World Economic Outlook terbaru memberikan "kisah sedih" bagi negara-negara emerging market, termasuk Indonesia. IMF dalam laporan terbaru memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara emerging market sedangkan proyeksi untuk Amerika Serikat (AS) justru dinaikkan.

IMF kini memproyeksikan pertumbuhan ekonomi ASEAN 5 (Indonesia, Malaysia, Philippines, Thailand, Vietnam) di tahun ini sebesar 4,3%, turun dibandingkan proyeksi yang diberikan bulan April lalu sebesar 4,9%.

"Prospek pertumbuhan ekonomi untuk India diturunkan akibat serangan Covid-19 gelombang kedua yang parah pada Maret hingga Mei, dan pemulihan diperkirakan akan berjalan lambat. Dinamika yang sama juga terjadi di ASEAN 5, di mana penyebaran virus corona terbaru menyebabkan kemerosotan aktivitas ekonomi," tulis IMF dalam laporan yang dirilis Senin (28/7/2021).

AS sebenarnya juga mengalami peningkatan kasus Covid-19 belakangan ini, tetapi IMF tetapi menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonominya. Di tahun ini produk domestik bruto (PDB) AS diperkirakan sebesar 7%, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya 6,4%.

Saat ini, pasar di global sedang bersikap hati-hati, sembari memantau hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) yang akan dirilis pada siang hari waktu AS atau Kamis (29/7/2021) dini hari waktu Indonesia.

Semua mata dan telinga tertuju pada agenda konpers tersebut, yang biasanya berisikan pandangan terbaru mereka terkait kondisi ekonomi AS, inflasi dan pengangguran. Namun kali ini, pasar menunggu pernyataan tambahan soal tapering off atau pengurangan pembelian aset di pasar (quantitative easing/QE).

Peluang Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk tetap mempertahankan sikap dovish-nya masih terbuka lebar, seperti pengumuman kebijakan moneter Juni lalu. Hal ini karena kondisi perekonomian AS yang sebenarnya belum pulih seperti sebelum pandemi.

Imre Speizer, analis dari Westpac Bank mengatakan kemungkinan besar tidak ada kejutan dari The Fed, dan pelaku pasar akan memperhatikan adanya perubahan sikap atau sesuatu yang ditekankan.

"Mereka sebelumnya mengatakan sudah membicarakan tapering dan hal itu akan dikatakan lagi, begitu juga dengan inflasi yang tinggi dikatakan sementara," kata Speizer, sebagaimana dilansir CNBC International, Rabu (28/7/2021).

Namun, dari sikap kehati-hatian pasar pada hari ini, imbal hasil surat utang pemerintah AS (Treasury) terpantau mengalami kenaikan pada pra-pembukaan (pre-opening) pasar pada hari ini.

Dilansir data dari CNBC International, yield Treasury acuan bertenor 10 tahun naik 1,9 bp ke level 1,253% pada pukul 06:59 pagi waktu AS, dari sebelumnya pada penutupan Selasa (27/7/2021) kemarin di level 1,234%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading