Kripto Masuk Angin! Harga Bitcoin Masih Belum Bisa Move On

Market - chd, CNBC Indonesia
19 July 2021 09:38
FILE PHOTO: Representations of the Ripple, Bitcoin, Etherum and Litecoin virtual currencies are seen on a PC motherboard in this illustration picture, February 13, 2018. Picture is taken February 13, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mata uang kripto (cryptocurrency) kembali diperdagangkan di zona merah pada perdagangan Senin (19/7/2021) pagi waktu Indonesia, melanjutkan pergerakan sepanjang pekan lalu.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 09:00 WIB, dari sepuluh kripto berkapitalisasi terbesar, hanya tiga kripto yang cenderung bertahan di zona hijau, di mana ketiganya merupakan koin digital berjenis stablecoin,yakni Tether, USD Coin, dan Binance USD.

Pada pagi hari ini, Bitcoin merosot 1,82% ke level harga US$ 31.613,22 per koin atau setara dengan Rp 458.075.558 per koinnya (asumsi kurs Rp 14.490/US$), Ethereum ambles 4,78% ke harga US$ 1.882,77 per koin (Rp 27.281.337 per koin), dan Dogecoin ambruk 7,23% ke US4 0,1786 per koin (Rp 2.558 per koin).


Pada pekan lalu, mayoritas kripto masih mengalami pelemahan. Dari sepuluh kripto berkapitalisasi terbesar, pelemahan paling besar terjadi di kripto Polkadot yang ambruk hingga 20,79%. Sementara pelemahan yang paling kecil terjadi Bitcoin.

Sedangkan untuk kripto berjenis stablecoin masih tetap bertahan dengan naik tipis-tipis pada pekan lalu. Adapun koin digital stablecoin tersebut yakni Tether, USD Coin, dan Binance USD.

Sementara itu pada pekan lalu, indeks itwise 10, yang merekam pergerakan harga 10 mata uang kripto utama di dunia, tercatat melemah 1,1% pada perdagangan Jumat (18/7/2021) menjadi 34,6. Pelemahan terjadi di tengah koreksi seluruh mata uang digital yang menjadi konstituennya.

Secara mingguan, posisi pada hari tersebut setara dengan koreksi sebesar 13,5% jika dibandingkan dengan penutupan Jumat akhir pekan lalu, yang berada di level 40. Kisah mata uang kripto memang sedang tidak bagus tahun ini.

Sepanjang Juli, reksa dana yang mengacu pada 10 mata uang kripto berkapitalisasi pasar terbesar ini anjlok 12,7%. Sepanjang tahun berjalan, koreksi terhitung lebih parah, yakni mencapai 42,7%. Namun sejak ditransaksikan pada 15 Oktober 2020, indeks tersebut masih terhitung melesat 188,3%.

Bitcoin hingga pagi hari ini masih diperdagangkan di kisaran level US$ 31.000. Bitcoin mungkin telah didukung oleh penyetujuan Bank of America terhadap perdagangan Bitcoin berjangka (futures) untuk beberapa klien.

"Ini adalah komitmen besar untuk bank terbesar kedua di AS tersebut dan menandakan bahwa minat dalam perdagangan mata uang kripto akan tetap ada," kata Edward Moya, analis senior market di Oanda dalam email kepada CoinDesk.

"Di Wall Street, jika satu bank melihat peluang dalam melakukan sesuatu yang berisiko, sisanya akan dengan mudah membenarkan hal itu." tambahnya.

Beberapa analis mengatakan bahwa Bitcoin bersiap untuk breakout di harga lebih tinggi atau lebih rendah, setelah diperdagangkan di kisaran level US$ 30.000 - US$ 40.000 selama delapan minggu terakhir.

Di tengah kembali naiknya kasus Covid-19 di banyak negara, termasuk Inggris dan Indonesia, ketidakpastian pun kembali meliputi prospek ekonomi dunia. Investor pun kembali memburu aset minim risiko seperti obligasi, sehingga harga obligasi acuan naik sementara imbal hasil (yield) melemah.

Para investor meyakini mata uang kripto menjadi aset alternatif untuk melindungi nilai (hedging) kekayaan mereka dari gerusan inflasi. Oleh karenanya, investor cenderung memburu kripto, walaupun harganya masih melemah. Aksi buru kripto terjadi manakala ekspektasi inflasi meninggi bersamaan dengan kenaikan yield surat utang pemerintah AS, dan demikian pula sebaliknya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kripto Mulai Ambles Lagi, Bitcoin Gagal Capai US$ 50.000


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading