Wall Street Tumbang Dihantui Ketakutan Covid-19 Varian Delta

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
17 July 2021 08:10
Trader Timothy Nick works in his booth on the floor of the New York Stock Exchange, Thursday, Jan. 9, 2020. Stocks are opening broadly higher on Wall Street as traders welcome news that China's top trade official will head to Washington next week to sign a preliminary trade deal with the U.S. (AP Photo/Richard Drew)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah sempat menguat pada awal perdagangan, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street kompak ditutup melemah pada penutupan perdagangan Jumat (16/7/2021) waktu setempat, di tengah kekhawatiran investor soal lonjakan kasus Covid-19 seiring mengganasnya penularan virus Corona varian Delta.

Indeks Dow Jones Industrial Average menjadi yang paling anjlok, yakni 0,86% ke posisi 34.687,852, kemudian indeks S&P 500 ambles 0,76% ke 4.327,110. Indeks yang sarat saham teknologi Nasdaq juga melorot 0,80% ke posisi 14.427,240. Saham-saham teknologi raksasa, seperti Amazon dan Apple yang turun lebih 1% menjadi pemberat indeks ini. Selain itu, saham Nvidia anjlok 4,2%.

Sementara, indeks sektor teknologi S&P juga tergerus hampir 1%. Berbeda, indeks sektor utilitas S&P naik 1%, sementara indeks real estat S&P menguat tipis 0,1%.


Kemudian, saham Moderna Inc melonjak 10,3% ke rekor tertinggi setelah Indeks S&P Dow Jones mengatakan produsen obat tersebut akan bergabung dengan indeks S&P 500 pada awal perdagangan pada 21 Juli, menggantikan saham Alexion Pharmaceuticals.

Berbeda dengan saham Moderna, saham Didi Global Inc melorot 3,2% setelah China mengirim pejabat negara dari setidaknya tujuh departemen ke 'markas' sang raksasa penyedia jasa ride-hailing untuk tinjauan keamanan siber.

Dalam sepekan, Dow Jones turun 0,52%, sedangkan S&P 500 merosot 0,97% dan Nasdaq anjlok 1,87% selama periode yang sama.

Melansir Reuters, pada Kamis lalu, Los Angeles County mengatakan akan menerapkan kembali kewajiban memakai masker pada akhir pekan ini. Pada Jumat, pejabat kesehatan masyarakat mengatakan kasus virus corona AS naik 70% dari minggu sebelumnya, dengan angka kematian naik 26%.

"Covid mulai mempengaruhi pasar, ironisnya, untuk pertama kalinya sejak musim panas lalu, ketika perdagangan dibuka kembali," kata Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma, dikutip CNBC Indonesia, Sabtu (17/7/2021).

Sepanjang minggu ini, kekhawatiran investor tentang lonjakan inflasi baru-baru ini diimbangi dengan jaminan dari Ketua bank sentral AS alias The Fed Jerome Powell bahwa lonjakan harga yang terjadi bersifat sementara.

Selain Powell, Menteri Keuangan AS Janet Yellen juga membantu menyeimbangkan sentimen pasar setelah menyatakan bahwa inflasi tinggi kemungkinan akan melandai dalam beberapa bulan tetapi sikap kehati-hatian masih harus dipertahankan dalam menyikapinya.

"Saya tak mengatakan bahwa ini adalah fenomena berumur 1 bulan. Namun menurut saya dalam jangka menengah kita akan melihat pelemahan inflasi kembali ke level normal," kata Yellen.

Sepanjang pekan depan, investor akan mengamati sejumlah laporan pendapatan kuartal kedua perusahaan-perusahaan besar, seperti laporan dari Netflix, Johnson & Johnson, Verizon Communications, AT&T dan Intel.

Sebelumnya, data dari Departemen Perdagangan menunjukkan penjualan ritel per Juni di AS dilaporkan tumbuh 0,6% secara bulanan, atau terbalik 180 derajat dari proyeksi ekonom dalam polling Dow Jones yang memperkirakan penurunan 0,4%. Jika penjualan otomotif dikeluarkan, maka pertumbuhan penjualan ritel mencapai 1,3% atau jauh lebih baik dari ekspektasi pasar sebesar 0,4%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading