Jasa Kurir 'Booming' Saat PPKM, Ini 5 Emiten Pemain Besarnya

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
16 July 2021 17:05
Pekerja melakukan penyortiran paket yang datang dari luar negeri di Kantor Regional IV PT. Pos Indonesia (Persero) di Jln. Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (6/2/2019). Meskipun sejumlah pekerja dari Serikat Pekerja Pos Indonesia (SPPIKB) menggelar aksi demo aktivitas pengiriman tetap berjalan. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Akhir-akhir ini, jasa kurir semakin menjadi andalan masyarakat seiring dengan maraknya orang-orang berbelanja daring (online) di e-commerce ditambah dengan aturan pembatasan mobilitas akibat pandemi Covid-19 yang membuat banyak orang beraktivitas di rumah.

Menurut catatan CNBC Indonesia, logistik menjadi salah satu industri yang berkontribusi positif selama 10 tahun terakhir dengan kisaran pertumbuhan 1-10% per tahun.

Adapun dari sisi prospek, bisnis logistik diproyeksikan masih akan cukup menjanjikan karena permintaan di masa pandemi virus Corona dan pembatasan sosial, pelanggan semakin beralih berbelanja secara daring.


Selain itu, penyedia layanan pengiriman juga sangat dibutuhkan di Indonesia yang memiliki penduduk berjumlah 267 juta yang tersebar di sekitar 7.000 pulau.

Tentu hal ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan-perusahaan penyedia jasa logistik dan kurir, tak terkecuali bagi sejumlah emiten yang terjun di bisnis tersebut.

Lantas, emiten-emiten apa saja yang bergerak di bidang jasa kurir? Kemudian, bagaimana kinerja fundamental emiten-emiten tersebut pada kuartal I 2021?

Berdasarkan penelusuran cepat Tim Riset CNBC Indonesia, setidaknya ada lima emiten yang bergerak dalam, atau berhubungan dengan, jasa pengiriman.

Kelima emiten tersebut adalah emiten milik taipan TP Rachmat PT Adi Sarana Armada (ASSA), yang memiliki lini usaha kurir dengan brand Anteraja lewat anak usahanya PT Tri Adi Bersama.

Kemudian, emiten pemilik jasa kurir SAP Express PT Satria Antaran Prima (SAPX), emiten pemilik jasa kurir GED yang 31,62% sahamnya dikuasai fintech Akulaku PT Trimuda Nuansa Citra Tbk (TNCA) dan perusahaan logistik KJN Express PT Krida Jaringan Nusantara Tbk (KJEN).

Adapun, satu emiten lagi sebenarnya tidak terlibat secara langsung ke bisnis kurir, melainkan bekerja sama dengan salah satu pemain besar di bidang pengiriman barang PT SiCepat Ekspres Indonesia (SiCepat). Emiten yang dimaksud adalah PT Digital Mediatama Maxima (DMMX).

DMMX, yang termasuk ke dalam Grup M Cash (PT M Cash Integrasi Tbk/MCAS), bergerak di bidang pemasaran perdagangan digital dan platform pertukaran iklan cloud yang menyediakan berbagai layanan end-to-end.

Menurut rilis resmi perusahaan, kerja sama yang dimaksud adalah dalam hal pengembangan Digital Cloud Ad yang tersebar di beberapa service points SiCepat. Kerja sama ini akan dikembangkan lebih luas dengan mengembangkan platform komersial untuk jaringan ritel Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) DMMX bersama jaringan logistik SiCepat.

Sebagai informasi, pada 27 Mei lalu, SiCepat melakukan investasi dengan membeli 4,5% saham DMMX. Adapun per 30 Juni, SiCepat kembali menambah kepemilikan sahamnya di DMMX hingga menjadi 5,68%.

Adapun pemain-pemain besar lainnya di bidang jasa kurir, seperti JNE, Ninja Xpress, Tiki, Pos Indonesia, dan J&T Express bukan termasuk perusahaan terbuka saat ini.

Khusus untuk nama terakhir, pada April lalu, J&T disebutkan berencana mencatatkan saham di bursa Wall Street, Amerika Serikat dan menghimpun pendanaan sebesar US$ 1 miliar atau setara Rp 14,4 triliun dengan rerata kurs Rp 14.400.

Namun, belum ada keterangan lebih lanjut dari pihak J&T mengenai rencana tersebut.

Mengenai kinerja keuangan, dari kelima emiten di atas, hanya KJEN yang baru memberikan laporan keuangan per 30 September 2020.

Berikut ini tabel kinerja keuangan kelima emiten tersebut.

Tabel Kinerja Keuangan 5 Emiten yang Berkaitan dengan Jasa Kurir per Kuartal I 2021

Kode Ticker

Pendapatan Q-1 '21

Pendapatan Q-1 '20

Laba Bersih Q-1 '21

Laba Bersih Q-1 '20

ASSA

963,17 M

701,62 M

32,66 M

34,80 M

DMMX

180,68 M

85,24 M

10,26 M

8,81 M

KJEN*

8,31 M

9,50 M

(2,85 M)

938,14 Juta

SAPX

129,84 M

108,63 M

8,21 M

11,36 M

TNCA

17,14 M

19,74 M

708,34 Juta

351,51 Juta

*KJEN menggunakan laporan per kuartal III 2020 | ^Dalam rupiah (Rp)

Sumber: Bursa Efek Indonesia (BEI)

Berdasarkan data di atas, 2 emiten tercatat membukukan kenaikan laba bersih pada 3 bulan pertama 2021, yakni DMMX dan TNCA. Kemudian, 2 emiten mengalami penurunan laba bersih, yakni ASSA dan SAPX. Sementara 1 emiten malah menanggung rugi pada 9 bulan pertama 2020, yakni KJEN.

Per kuartal I tahun ini, DMMX mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 16,51% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 10,26 miliar. Seiring dengan itu, pendapatan usaha juga melonjak tajam sebesar 111,97% menjadi Rp 180,68 miliar. Pos penjualan trade marketing menjadi penyumbang terbesar pendapatan, yakni Rp 139,95 miliar.

Kemudian, TNCA juga mencetak pertumbuhan laba bersih 101,51% pada triwulan I 2021 menjadi Rp 708,344 juta. Namun, lonjakan laba bersih tersebut tidak dibarengi dengan pendapatan perusahaan yang justru turun 13,17% menjadi Rp 17,14 miliar per 31 Maret 2021.

TNCA memiliki dua jenis jasa sebagai sumber pendapatan, yakni pos kurir & logistik yang menyumbang Rp 16,11 miliar dan jasa trucking yang berkontribusi sebesar Rp 1,03 miliar pada 3 bulan pertama 2021.

Berbeda dengan DMMX dan TNCA, ASSA membukukan penurunan laba bersih sebesar 6,15% dari Rp 34,80 miliar pada kuartal I 2020 menjadi Rp 32,66 miliar pada periode yang sama tahun ini. Namun, pendapatan ASSA naik signifikan sebesar 37,28% menjadi Rp 963,17 miliar pada periode Januari-Maret 2021.

Adapun berdasarkan lini usaha, jasa pengiriman menjadi kontributor pendapatan terbesar, yakni Rp 391,54 miliar. Angka ini naik 210,36% dari pendapatan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 126,17 miliar.

Di posisi kedua, ada jasa sewa kendaraan penumpang dan autopool yang memberikan sumbangsih pendapatan Rp 312,33 miliar pada periode 31 Maret 2021. Sementara, jasa logistik menjadi penyumbang pendapatan paling minim, yakni Rp 31,05 miliar.

Seperti ASSA, laba bersih SAPX juga tergerus 27,73% menjadi Rp 8,21 miliar pada periode 3 bulan pertama 2021. Di tengah turunnya laba bersih, pada kuartal I tahun ini pendapatan usaha SAPX meningkat 19,52% menjadi Rp 129,84 miliar. Sebagai informasi, 100% atau keseluruhan pendapatan SAPX berasal dari pos jasa kurir.

Terakhir, KJEN yang mengalami rugi bersih Rp 2,85 miliar pada triwulan I 2021, berbalik dari raihan laba bersih Rp 938,14 juta pada periode yang sama tahun 2020. Seiring dengan meruginya perusahaan, pendapatan usaha juga turun 12,53% menjadi Rp 8,31 miliar. Adapun keseluruhan pendapatan KJEN per triwulan 2020 dan 2019 berasal dari jasa pengiriman.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading