Duh! Harga Kritpo Masih Belum Bisa Move On, Bitcoin Drop 2%

Market - chd, CNBC Indonesia
16 July 2021 12:55
Infografis/usai Cetak rekor, Sekarang Harga Bitcoin Cs Terjun bebas, Ini penyebabnya/ Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mata uang kripto (cryptocurrency) kembali diperdagangkan di zona merah pada perdagangan Jumat (16/7/2021) siang waktu Indonesia, melanjutkan pelemahan pada perdagangan Kamis (15/7/2021).

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 11:58 WIB, dari tujuh kripto berkapitalisasi terbesar, hanya satu kripto yang masih menguat, yakni koin digital Binance Coin.

Koin digital Binance Coin meroket 5,29% ke level US$ 320,68 per koin atau setara dengan Rp 4.649.860 per koinnya (asumsi kurs Rp 14.500/US$).


Sementara sisanya masih diperdagangkan melemah pada pagi hari ini. Bitcoin merosot 2,21% ke level US$ 31.951,73/koin atau setara dengan Rp 463.300.085/koin, Ethereum terkoreksi 1,19% ke US$ 1.949,34/koin (Rp 28.265.430/koin).

Berikutnya Tether turun tipis 0,02% ke harga US$ 1 per koin atau setara dengan Rp 14.500 per koinnya, Cardano melemah 0,74% ke US$ 1,24/koin atau setara dengan Rp 17.980/koin, Ripple terpangkas 0,39% ke US$ 0,6119/koin (Rp 8.873/koin) dan Dogecoin ambrol 3,89% ke posisi harga US$ 0,1865/koin (Rp 2.704/koin)

Pada perdagangan Kamis (15/7/2021) kemarin, pelemahan Bitcoin menjadi yang terbesar semenjak 10 hari terakhir. Bitcoin cenderung mengikuti pergerakan pasar saham global yang juga sedang melemah.

Beberapa analis pun memperingatkan kepada investor di kripto bahwa bahwa pasar mungkin siap untuk penurunan baru.

"Bitcoin memang terlihat sedang rapuh, kecuali kita dapat melihat garis break yang jelas ke wilayah positif, namun kami sulit untuk mengasumsikan kenaikan kembali." kata Lennard Neo, kepala penelitian untuk Stack Funds, dikutip dari CoinDesk.

Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS), Jerome Powell yang berpidato dihadapan Kongres AS pada Rabu (14/7/2021) lalu membuat kripto sedikit terbebani, di tengah prospek inflasi yang terlalu besar ketika ekonomi mulai dibuka kembali dan kemungkinan peluncuran dolar digital juga turut menjadi sentimen negatif bagi pasar kripto.

Powell pun terkejut dengan meningkatnya inflasi Juni. Indeks harga konsumen (IHK) AS naik pada laju tercepat mereka dalam 13 tahun.

Walaupun begitu, bos bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) tersebut tetap berpegang taguh bahwa kenaikan itu hanya bersifat sementara.

Powell masih mempertahankan argumennya dengan alasan untuk mempertahankan suku bunga rendah dan pembelian obligasi pemerintah (Treasury) bulanan sebesar US$ 120 miliar tanpa ketakutan akan harga yang tidak terkendali.

Inilah masalah terpenting bagi para trader Bitcoin yang bertaruh bahwa cryptocurrency tersebut akan mempertahankan nilainya karena daya beli dolar yang sedang melemah atau bahwa ia akan menghadapi tekanan jual sebagai aset berisiko jika The Fed mulai bergerak untuk mengendalikan stimulus moneternya.

"Kami mengalami kenaikan inflasi yang lebih besar dari yang diperkirakan banyak orang sebelumnya, bahkan lebih besar dari yang saya harapkan, namun kami masih berusaha untuk memahami apakah hal itu akan berlalu dengan cukup cepat, atau apakah kami perlu bertindak dengan satu atau cara lainnya." kata Powell dalam pidatonya.

Secara terpisah, Powell mengatakan dia ragu-ragu apakah manfaat mata uang digital bank sentral (central bank digital currency/CBDC) lebih besar daripada biayanya.

"Rute yang lebih langsung adalah mengatur stablecoin," kata Powell, dilansir dari CoinDesk.

"Kewajiban kami adalah untuk mengeksplorasi teknologi dan masalah kebijakan selama beberapa tahun ke depan, sehingga kami berada dalam posisi untuk membuat rekomendasi yang tepat." tambahnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kripto Mulai Ambles Lagi, Bitcoin Gagal Capai US$ 50.000


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading