Fed Rate Berpeluang Dinaikkan 2022, Wall Street Dibuka Ambruk

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
18 June 2021 21:03
In this photo provided by the New York Stock Exchange, trader Americo Brunetti works on the floor, Thursday, March 25, 2021. Stocks are wobbling in afternoon trading Thursday as a slide in technology companies is being offset by gains for banks as bond yields stabilize.(Courtney Crow/New York Stock Exchange via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka ambles pada perdagangan Jumat (18/6/2021), menyusul indikasi kenaikan suku bunga bisa dilakukan lebih cepat yakni pada 2022.

Indeks Dow Jones Industrial Average ambruk 400 poin pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan 30 menit kemudian menjadi minus 390,65 poin (-1,15%) ke 33.432,8. S&P 500 turun 32,9 poin (-0,78%) ke 4.188,95. Namun, Nasdaq turun 56,8 poin (-0,4%) ke 14.104,56.

Koreksi berlanjut setelah Presiden The Fed St. Louis Jim Bullard kepada CNBC International menilai wajar jika The Fed cenderung agak "hawkish" dan bahkan menilai kenaikan suku bunga pertama bisa terjadi pada 2022.


Sebelumnya pada Kamis bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memicu koreksi besar, setelah mengindikasikan akan menaikkan suku bunga acuan dua kali pada 2023. Padahal pada Maret mereka menyebutkan baru menaikkan suku bunga acuan pada 2024.

"Investor sepertinya menginterpretasikan nada hawkish The Fed pada Rabu itu sebagai pertanda bahwa ekspansi ekonomi pasca-pandemi di AS kemungkinan bakal lebih sulit dicapai di tengah lingkungan kebijakan moneter yang kurang akomodatif," tutur analis Goldman Sachs Chris Hussey dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Selain itu, mereka memperkirakan inflasi tahun ini akan di level 3,4% atau di atas proyeksi sebelumnya sebesar 2%. Jika inflasi tinggi, suku bunga acuan biasanya didongkrak. Kondisi itu memicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi jangka pendek (yang artinya: dijual dan harganya turun), sementara yield obligasi tenor panjang drop (harga menguat).

Obligasi tenor pendek secara nominal membagikan yield lebih rendah jika dibandingkan yield obligasi tenor panjang. Ketika kondisi di atas berlanjut hingga rentang imbal hasil keduanya menyempit maka sektor perbankan pun tertekan. Saham Goldman Sachs anjlok lebih dari 1%, sementara JP Morgan dan Morgan Stanley kompak drop 2%.

Sepanjang pekan berjalan, indeks Dow Jones melemah 1,9%, atau menuju pekan terburuk sejak Januari. Indeks S&P 500 juga anjlok 0,6% tetapi Nasdaq naik 0,65%. Indeks saham sektor energi dan manufaktur kompak ambles hingga 4% sementara indeks saham sektor keuangan dan komoditas terbanting 5%. Mereka sebelumnya jadi pendongkrak bursa.

Mayoritas harga komoditas berbalik menguat tipis setelah terkoreksi dalam Kamis kemarin karena pemerintah China ingin menurunkan harga komoditas guna meredakan inflasi, di tengah tren penguatan dolar AS berkat outlook kenaikan suku bunga acuan.

Saham teknologi yang sepekan ini menguat, cenderung melanjutkan reli seperti terlihat pada saham Nvidia yang menguat 1%. Sementara itu, saham Adobe melesat 3% setelah mengumumkan kinerja kuartal I-2021 yang melampaui estimasi pasar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Wall Street Dibuka Naik, S&P 500 Berpeluang Cetak Reli 4 Hari


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading