Makjang! Bitcoin Cs Ambles Lagi, Chainlink-Ripple Terparah

Market - chd, CNBC Indonesia
08 June 2021 09:32
Infografis/Jangan Asal Beli, kenali Dulu 3 Mata Uang Kripto yang sedang Booming/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang kripto (cryptocurrency) kembali berjatuhan pada perdagangan Selasa (8/6/2021) pagi waktu Indonesia, setelah pada perdagangan kemarin sempat rebound dan bergerak menguat.

Berdasarkan data dari Investing pukul 09:00 WIB, harga Bitcoin ambles 7,95% ke level US$ 33.778,20/koin atau setara dengan Rp 481.840.317/koin, Ethereum merosot 6,66% ke US$ 2.606,41/koin (Rp 37.180.439/koin), Litecoin ambrol 9,58% ke US$ 163,10/koin (Rp 2.327.335/koin)

Berikutnya Chainlink ambruk hingga 11,52% ke posisi US$ 24,83/koin (Rp 353.915/koin), Ripple longsor 10,73% ke US$ 0,864/koin (Rp 12.333/koin), Cardano terkoreksi 8,07% ke US$ 1,576/koin (Rp 22.488/koin), dan Dogecoin jatuh 9,48% ke US$ 0,337/koin (Rp 4.812/koin)


Harga Bitcoin dan kripto lainnya kembali berjatuhan ke level terendahnya dalam sepekan terakhir karena para trader memandang rendah prospek perubahan kebijakan moneter AS dan pengetatan regulasi cryptocurrency di China.

Hal tersebut menandai kerugian harian terbesar, setelah turun sebesar 6,2%, terbesar sejak 28 Mei lalu, di tengah tekanan jual yang dipicu oleh memudarnya sentimen investor akan tren bullish.

Beberapa sentimen negatif menunjuk ke arah tekanan yang sedang berlangsung dari China terkait operasi penambangan dan perdagangan kripto, di mana situs media sosial Weibo, yang berisikan para tokoh berpengaruh di kripto China telah diblokir.

"China terus menekan kripto dengan larangan penambangan bergulir yang menghapus platform media sosial paling populer, Weibo, kini bersih dari influencer kripto," kata Jehan Chu, mitra pengelola di perusahaan investasi crypto yang berbasis di Hong Kong, Kenetic Capital, dikutip dari CoinDesk.

Pasar kripto juga cukup volatil karena investor melihat kemungkinan bahwa bank sental Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) mulai mengetatkan likuiditasnya.

Meskipun beberapa, termasuk para hedging seperti Skybridge Capital, yang kepemilikan Bitcoinnya melebihi US$310 juta mengatakan pengurangan kebijakan moneter AS tidak mungkin mempengaruhi kripto dan emas, dengan alasan kelas aset tersebut memiliki daya tahan yang cukup kuat.

Sementara itu, Deutsche Bank Jerman mengatakan AS bisa berada di salah satu periode inflasi terburuk dalam sejarah dengan pengeluaran pemerintah dan kebijakan moneter yang longgar kemungkinan menjadi katalis untuk menciptakan kondisi yang terakhir terlihat pada tahun 1940-an dan 1970-an.

"Sementara fundamental jangka panjang tetap utuh, kebijakan moneter dan makroekonomi AS menyebabkan kegelisahan jangka pendek," kata Chu, dilansir dari CoinDesk.

"Memang, investor telah melepas beberapa investasi mereka dengan harapan masuk pada titik yang lebih rendah karena kebijakan moneter dan fiskal AS tumbuh lebih jelas," tambahnya.

Di lain sisi, pejabat federal AS telah memulihkan setidaknya senilai US$ 2,3 juta dalam bentuk Bitcoin yang dibayarkan Colonial Pipeline kepada kelompok kriminal selama serangan ransomware.

Colonial Pipeline membayar sekitar US$ 4,4 juta dalam bentuk Bitcoin kepada para hacker yang berhubungan dengan kelompok Darkside, setelah sistem pembayarannya dibekukan bulan lalu.

Perusahaan terpaksa menghentikan distribusi bahan bakar minyak di seluruh Pantai Timur AS, yang memicu kekhawatiran kekurangan gas di 12 negara bagian.

Wakil Jaksa Agung Lisa Monaco mengatakan pada Senin (7/6/2021) kemarin bahwa perusahaan tersebut menghubungi penegak hukum, memungkinkan agen federal untuk melacak dan menyita dompet Bitcoin.

"Departemen Kehakiman telah menemukan dan memulihkan sebagian besar uang tebusan yang dibayarkan Colonial Pipeline kepada hacker," kata Wakil Jaksa Agung Lisa Monaco dalam konferensi pers.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Aset Kripto Diserbu Lagi, Chainlink Idola Baru & Meroket 17%


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading