Tak Hanya dengan Dolar AS, Rupiah Juga Kalah di Asia-Eropa

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
06 June 2021 14:00
Ilustrasi Penukaran Uang (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah pada pekan ini kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS), setelah pada pekan sebelumnya sempat menguat melawan sang greenback (dolar AS).

Mata Uang Garuda bertengger di level Rp 14.290 per dolar AS, atau melemah 0,07% sepekan ini, setelah pada akhir pekan lalu menguat 0,49% di angka Rp 14.280/dolar AS. Rupiah hanya mampu menguat tipis pada Senin dan bahkan stagnan pada Selasa dan Rabu.

Sepanjang pekan ini, indeks dolar AS tercatat menguat 0,09% menjadi 90,13. Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap mitra dagang utamanya itu bahkan sempat menguat hingga 90,49 pada Kamis, yang merupakan level tertinggi sejak 13 Mei.


Adapun apabila dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya, posisi greenback terpantau bervariasi, di mana mata uang Asia terpantau mixed melawan sang greenback.

Mata uang dolar Hong Kong, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, baht Thailand, dan dolar Taiwan pada pekan ini menguat melawan dolar AS.

Sementara sisanya yakni yuan China, rupee India, yen Jepang, peso Filipina, dolar Singapura, dan termasuk rupiah bersama-sama tak kuat melawan sang greenback.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang Benua Kuning sepanjang pekan ini:

Sementara itu jika dihadapkan dengan sesama mata uang Asia-Pasifik, rupiah hampir kalah telak melawan sebelas mata uang Asia-Pasifik. Rupiah hanya menang dengan tiga mata uang Asia, yakni menang dengan yuan China, rupee India, dan dolar Singapura.

Berikut perkembangan rupiah melawan mata uang Asia-Pasifik pada pekan ini:

Sementara itu di Eropa, rupiah hanya menang satu dari tiga mata uang utama Eropa, yakni hanya menang dengan pound sterling Inggris, sedangkan dengan euro dan franc Swiss, rupiah kalah telak.

Berikut perkembangan rupiah melawan mata uang utama Eropa pada pekan ini:

Indeks dolar AS terus menguat setelah Presiden bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) wilayah Philadelphia, Patrick Harker mengatakan saat ini waktu yang tepat untuk memikirkan mengenai pengurangan QE (quantitative easing).

Jika kebijakan itu dijalankan maka aksi borong surat berharga The Fed senilai US$ 120 miliar per bulan di pasar akan berkurang, yang artinya pasokan likuiditas ke pasar akan menurun. Dus, pasokan uang beredar akan menurun sehingga secara teoritis dolar AS pun menguat di pasar.

Saat ini, gambaran inflasi tinggi masih terpampang setelah Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan 559.000 penyerapan tenaga kerja baru pada Mei. Meski angka itu di bawah ekspektasi ekonom dalam polling Dow Jones yang memperkirakan angka 671.000, tetapi masih jauh lebih baik dari penyerapan April sebanyak 266.000.

Angka pengangguran juga terus menurun, menjadi 5,8%, dari periode April sebesar 6,1%. Capaian itu juga lebih baik dari ekspektasi ekonom dalam polling Dow Jones yang semula memprediksi angka 5,9%.

Kondisi tersebut membuat ekspektasi inflasi masih akan tetap tinggi. Inflasi yang tinggi memicu permintaan kupon obligasi yang tinggi pula.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun pun sempat menguat hingga 0,1 basis poin (bp) ke 1,628% pada Jumat pagi, sebelum kemudian berangsur menurun menjadi 1,557% pada penutupan Jumat.

Jika kupon meningkat, maka return obligasi pun menarik bagi investor global sehingga mereka menjual asetnya di negara lain dan beralih ke US Treasury yang berkonsekuensi pada kenaikan permintaan dolar AS untuk membeli surat berharga Negara Adidaya tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading