Malaysia Lockdown, Harga CPO Malah Melesat Pekan Ini

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
06 June 2021 12:00
A worker unloads palm oil fruit bunches from a lorry inside a palm oil mill in Bahau, Negeri Sembilan, Malaysia January 30, 2019.  Picture taken January 30, 2019.  REUTERS/Lai Seng Sin

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) acuan pada pekan ini terpantau kembali melesat dan kembali mengikuti pergerakan harga minyak mentah global yang juga sedang melesat pada pekan ini.

Sepanjang pekan ini, harga CPO di bursa Malaysia untuk kontrak Agustus 2021 melesat 2,97% secara point-to-point ke level RM 4.129/ton.


Kenaikan harga minyak mentah menjadi katalis positif untuk harga minyak sawit yang merupakan bahan baku biodiesel sebagai substitusi bahan bakar fosil.

Pada pekan ini, Harga minyak kontrak Brent melesat 3,25% dibanding posisi penutupan pekan lalu ke US$ 71,89/barel. Sedangkan untuk minyak kontrak West Texas Intermediate (WTI) meroket 4,98% ke US$ 69,62/barel pekan ini.

Sementara itu, riset terbaru Refinitiv menunjukkan adanya potensi penurunan output minyak sawit Negeri Jiran sebesar 1% di tahun 2021 menjadi 18,8 juta ton dikarenakan musim hujan bulan lalu.

Harga minyak sawit mentah Negeri Jiran melesat di kala Malaysia tengah menerapkan pembatasan wilayah (lockdown) untuk dua pekan ke depan yang dimulai pada akhir pekan lalu.

Meskipun aktivitas perkebunan kelapa sawit tidak dibatasi seketat sektor lain, tetapi permasalahan kekurangan tenaga kerja belum sepenuhnya terselesaikan, sehingga menjadi upside risk untuk harga CPO.

Sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah RI, Malaysia banyak mengandalkan tenaga kerja asing untuk sektor perkebunannya terutama sawit.

Pembatasan mobilitas menjadi ancaman bagi permasalahan ketersediaan tenaga kerja yang tadinya akut menjadi kronis.

Sebelumnya, pengumuman lockdown total disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin.

"Hanya sektor ekonomi dan jasa penting yang akan diizinkan untuk beroperasi," ujar Muhyiddin dilansir Straits Times, Sabtu (29/5/2021) lalu.

Desakan untuk lockdown total sudah muncul sebelum keputusan Muhyiddin. Sebelumnya, Sultan Negara Bagian Johor, Sultan Ibrahim Iskandar, meminta pemerintah Malaysia mempertimbangkan penguncian penuh alias "full lockdown".

Kenaikan kasus Covid-19 di Malaysia bahkan lebih mengerikan ketimbang India jika melihat salah satu indikator epidemiologi berupa kenaikan kasus per 1 juta penduduk di Malaysia sudah lebih tinggi dibandingkan dengan India.

Berdasarkan catatan CNBC International, rata-rata kasus infeksi virus corona (Covid-19) harian di Malaysia per satu juta orang mencapai angka 205, jauh lebih tinggi ketimbang India yang mencapai 150.

Populasi Malaysia memang tak sebesar India karena hanya menampung 32 juta penduduk. Jelas jauh sekali jika dibandingkan dengan Negeri Bollywood. Namun jika angka pertambahan kasus harian per satu juta penduduknya lebih tinggi maka sudah jelas Malaysia sedang dalam keadaan darurat.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading